suku minahasa
PENGERTIAN SUKUMINAHASA
Minahasa berasal dari kata dasar “ESA” yang berarti “Satu”. Minahasa
berkembang dari Malesung ,Maesaan,Minaesaan,Mahasa,Minahasa,yang pada intinya
berarti “MENJADI SATU”.Istilah ini dipakai oleh sub-etnis Minahasa yang
notabene hidup di ujung utara pulau Sulawesi,untuk pertama kali disebut
“MINHASA”(Minahasa) pada abad XVII.
Jadi pada pengertian awal,nama “Minahasa” bukanlah nama etnis melainkan
“persatuan” dari sejumlah suku / sub-etnis tersebut. Pada perkembangan
selanjutnya,pengertian nama “Minahasa” berubah menjadi sebuah komunitas
“Bangsa” atau “Etnis”. Sering kali etnis /bangsa/ suku-bangsa minahasa
disamakan dengan “Orang Manado” (=orang dari ex Keresidenan Manado atau ex
Afdeling Manado) atau Kawanua (orang atau teman sekampung).
Bangsa Minahasa adalah semua orang yang termasuk dalam sub-etnis Malesung :
- Tonsea
- Tombulu
- Tondano / Toulour
- Tountemboan
- Tonsawang
- Ponosakan
- Bantik
- Serta Borgo dan Bawontehu
Orang minahasa juga mengenal adanya kekuatan semacam dewa,yaitu orang-orang tua yang memiliki kekuatan spiritual maupun yang dihormati dan disegani (para dotu) yang telah meninggal. Mereka ini kemudian disebut sebagai Opo (suku tontemboanmenyebutnya Apo). Sang esa dikenal dengan nama empung,atau Opo Wailan Wangko,Opo Menambo-nembo,Opo renga-rengan,yang bermukim di kasendukan serta dilayani para Opo (dewa).
Disamping dunia manusia di bumi,penduduk percaya ada dunia tengah (kalahwakan) yang didiami para dotu. Para dotu ini menjadi medium manusia di bumi dengan empung di dunia atas. Leluhur awal mempercayai jiwa manusia tidak mati,tapi pergi ke tempat tinggal leluhurnya.
Pada saat bangsa eropa tiba di minahasa,agama Kristen diterima dengan tangan terbuka. Pada mulanya agama Kristen katolik disebarkan oleh misionaris bangsa spanyol dan portugis abad ke 16 dan 17 dan dilanjutkan abad ke 19. Pada saat belanda masuk di minahasa,pemeluk katolik di alihkan menjadi protestan. Penyebaran protestan dilakukan oleh Zendeling (pekabar injil belanda) berkebangsaan jerman dan belanda. Kedudukan kolonial belanda yang bertahan selam 3 abad di minahasa menyebabkan orang minahasa lebih banyak memeluk aliran protestan.
Bahasa daerah Minahasa terdiri dari:
- Tountemboan
- Tombulu Tonsea
- Toulour (Tondano)
- Ratahan
- Pasan
- Ponosakan
- Bantik
- Musik Bambu Melulu (seluruh instrument terbuat dari bamboo)
- Musik Bambu Klarinet (sebagian instrument terbuat dari bambu dansebagian dari "bia")
- Musik Bambu Seng (beberapa instrument terbuat dari bamboo)
- Musik Bia (instrument terbuat dari bia.)
- O Ina Ni Keke
- Oh Minahasa
- Bubur manado
- Ayam rica-rica
- Biakolobi
Ketika pertunjukan berlangsung, tidak tampak sedikit-pun senyum di wajah para penari. Mulai dari awal pertunjukan, gerakan penari Kabasaran terlihat energik dan menggambarkan sifat keprajuritan. Gerakan mereka semakin terlihat dinamis ketika tabuhan gong dan kulintang terdengar begitu keras.
Dengan membawa pedang di tangan kanan dan tombak di tangan kiri, para penari Kabasaran terlihat seperti orang yang hendak berperang. Sesekali, penari Kabasaran mengayunkan kedua senjata yang ada di tangan mereka sambil melompat dan mengayunkan senjata. Mereka-pun memperlihatkan gerakan berjalan maju-mundur dengan penuh semangat. Di daerah Minahasa, gerak tari Kabasaran dijadikan simbol keperkasaan dan keberanian warga Minahasa melawan musuh.
Gerak tari Kabasaran terlihat garang, namun sesaat sebelum pertunjukan usai, para penari Kabasaran menarikan gerak yang terlihat begitu riang. Gerakan di penghujung pertunjukan ini menjadi simbol kebebasan penari Kabasaran dari rasa amarah usai berperang melawan musuh.
Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat.
2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang.
3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya.
Tanda ini dipakai juga ketika menemukan tempat awal untuk di tinggali serta bisa juga untuk mengabulkan keinginan seseorang.
3 memiliki arti tiga kekuatan, yakni : Tuhan, Alam, Manusia. Angka 3 itu sendiri mengandung arti 9 kekuatan dari hitungan 3 x 3 = 9. Karena itu, maka Angka Suci orang Manado dari Suku Minahasa, yaitu : 999. Angka sempurna kebalikan dari angka manusia 666, yakni Angka Setan.
Asal
Usul SUKU MINAHASA anak suku TONSEA
Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala
yang terdapat di Eropa, Afrika, Asia, Amerika, maka manusia diperkirakan mulai
menyebar hingga ke pelosok di muka bumi sejak 35 ribu tahun lalu. Di tanah
Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti:
Kaum Kuritis yang berambut keriting, Kaum Lawangirung (berhidung pesek).
Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa,
Tolour, Suku Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah
minahasa sekitar tahun 1590 Suku Minahasa atau Malesung mempunyai
pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa
Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti
mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.
LUAS
TANAH AIR MINAHASA
Luas tanah minahasa sekitar 5.220 km2 adalah luas keseluruhan kota manado
sendiri luasnya 157,26 km2,kota bitung luasnya 304 km2,kota tomohon luasnya
114,2 km2,kabupaten minahasa selatan luasnya 2.120,80 km2 (tahun 2007 kabupaten
minahasa tenggara mekar dari kabupaten minahasa selatan dengan luas 710,83
km2. Jadi luas minahasa selatan tinggal 1.409,97 km2,kabupaten minahasa
utara luasnya 918,49 km2,sedangkan luas total kabupaten minahasa induk tinggal 2.100
km2. Dengan demikian luas tanah minahasa adalah 1/40 luas pulau sulawesi.
SEJARAH SUKU MINAHASA
Orang minahasa yang dikenal dengan keturunan Toar Lumimuut sekitar
abad 1 (pertama) pemukiman leluhur terlebih dulu berdiam di sekitar
pesisir Likupang, lalu berpindah ke pegununggan Wulur Mahatus, wilayah selatan
Minahasa kemudian berkembang dan berpindah ke Nieutakan (daerah sekitar tompaso
barusaat ini). Pada masa ini pemerintahan menggunakan sistem
kerajaan. Seorang raja bertahta berdasarkan garis keturunan.Sejarah orang
Minahasa umumnya di tulis oleh orang-orang asing yang datang ke tanah ini
sebagian besar adalah misionaris. Beberapa
antaranya: Pdt.Scwarsch, J. Albt. T.
Schwarz, Dr.
JGF Riedel, Pdt. Wilken, Pdt. J. Wiersma. Terdapat
tiga tokoh sentral terkait dengan leluhur orang Minahasa, yaitu Lumimuut, Toar dan Karema.Karema, dimengerti sebagai "manusia langit", dan
Lumimuut dan Toar adalah leluhur dan cikal bakal dari orang-orang Minahasa.
Manusia awal di Minahasa yang berasal dari Lumimuut dan Toar, tempat semula
dari Lumimuut dan Toar serta keturunannya disebut Wulur Mahatus.
Kelompok-kelompok awal ini kemudian berkembangan biak dan bermigrasi ke
beberapa wilayah di tanah Minahasa.Orang minahasa pada waktu itu dibagi dalam 3
(tiga) golongan yaitu : Makarua Siow (2x9) : para pengatur Ibadah dan
Adat Makatelu Pitu (3x7) : yang mengatur pemerintahan Pasiowan Telu
(9x7) : RakyatPembagian golongan berdasarkan keturunan darah. Ketika hadir
pemimpin yang semakin lama pemerintahan semakin korup dan sewenang-wenang, maka
terjadilah revolusi rakyat yang menggulingkan pemerintahan monarki.
KEKERABATAN
Masyarakat Minahasa kuno Keluarga batih sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat Minahasa
di sebut Awu. Istilah itu sebenarnya berarti abu, juga di pakai dalam
arti dapur. Sampai sekarang di Minahasa masih banyak di dapati tempat masak
terbuat dari kayu atau bambu di isi dengan tanah atau abu. Dalam hubungan masyarakat, istilah Awu dipakai dalam
keluarga batih (rumah tangga) dan di pergunakan banyaknya penduduk di satu
kampung. Dalam masyarakat Minahasa kuno sedapatnya seluruh keluarga baik yang
sudah menikah atau belum tinggal di satu rumah besar berbentuk bangsal yang di
dirikan di atas tiang tiang tinggi. Bangunan di atas tiang tinggi itu erat
hubungannya dengan keamanan. Dalam kunjungan Prof. Reinwardt tahun 1821 ke Tondano dia masih
melihat rumah rumah yang tiang tiangnya sekitar dua pelukan orang dewasa.
Kemudian laporan Dr. Bleeker pada tahun 1855 menulis bahwa kampung kampung di
Minahasa di bangun di atas tiang tiang tinggi dan besar, dan di huni oleh empat
keluarga bersama sama.
Menurut ketentuan adat, bila seorang anggota keluarga yang sudah
dewasa membentuk rumah tangga baru, maka rumah tangga baru itu mendapat ruangan
tersendiri di keluarga pria atau wanita. Ruangan terpisah itu dilengkapi dengan
satu tempat masak sendiri, yang berarti yang menempatinya telah berdiri
sendiri. Ruangan tempat masak itulah yang di sebut awu. Awu akhirnya
di artikan sebagai rumah tangga. Karna itu pulalah orang yang sudah menikah
saling menyebut Ka Awu (Ka = teman, kakak).
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak anak.
Sebagai kepala dari Awu bertindak si Ama (ayah)
dan bila ia meninggal dunia maka si Ina (ibu) yang menggantikannya.
Beradanya fungsi kepala di sini dalam tangan sang ayah bukan berarti kekuasaan
mutlak pengaturan rumah tangga berada di tangannya. Kepala di sini lebih
dititik beratkan pada arti adanya rumah tangga dan kewajiban membela rumah
tangga terhadap serangan dari luar. Dalam ketentuan adat untuk pengurusan rumah
tangga si Ama dan Ina wajib bermusyawarah untuk mengambil
keputusan dan menentukan kebijakan.
Dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang meliputi beberapa
bangsal. Menurut kebiasaan, pembangunan bangsal baru harus berdekatan dengan
bangsal lama. Hal ini menyangkut pengurusan kepentingan bersama, keamanan, dan
masalah lahan pertanian bersama. Kompleks bangsal bangsal ini yang di huni oleh
penduduk yang berhubungan kekeluargaan di namakan Taranak. Pimpinan Taranak di
pegang oleh Ama dari keluarga cikal bakal yang di sebut Tu'ur.
Tugas utama Tu'ur adalah melestarikan ketentuan ketentuan adat,
meliputi hubungan antar Awu, mengatur cara cara mengerjakan lahan
pertanian yang di miliki bersama, mengatur perkawinan anggota anggota Taranak,
hubungan antar Awu dan Taranak sampai dengan mengadili dan
menghukum anggota anggota yang bersalah. Tetapi apapun yang dikerjakannya bila
hal itu menyangkut keamanan dan prestise Taranak, ia senantiasa minta pendapat
dari para anggota Taranak, karena hal itu juga menjadi ketentuan adat.
Berlainan dengan di tingkat Awu yang mana pengurus berada
dalam tangan Ama dan Ina bersama sama, pada
tingkat Taranak peranan si Ina tidak terlalu menonjol.
Taranak, Roong / Wanua, Walak
Perkawinan perkawinan antara
anggota Taranak membentuk TaranakTaranak baru. Bangsal
bangsal mulai bertumbuh berkelompok, membentuk kompleks yang semakin luas .
Batas penentuan sesuatu Taranak sebagai satu masyarakat hukum mulai
menjadi kabur, dan arti Taranak sebagai satu kesatuan menjadi lebih
abstrak. Untuk itu sebagai alat identifikasi para penghuni kompleks bangsal,
dipakailah kesatuan teritorial. Dengan kata lain fungsi identifikasi mulai
bergeser dari bentuk hubungan darah ke bentuk pemukiman.
Akibat proses ini terciptalah kompleks bangsal bangsal dalam satu
kesatuan yang di sebut Ro'ong atau Wanua. Wilayah
hukum Wanua meliputi kompleks bangsal itu sendiri dan wilayah
pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama para penghuni Ro'ong atau Wanua itu.
Pemimpin Ro'ong atau Wanua disebut Ukung yang
berarti kepala atau pimpinan. Untuk pengurusan
wilayah, Ro'ong atau Wanua di bagi dalam beberapa bagian
yang disebut Lukar. Pada mulanya Lukar ini dititik beratkan pada
keamanan sehingga akhirnya Lukar di ganti menjadi Jaga. Sampai
kini di sebagian tempat di Minahasa masih di pakai kata Lukar dalam
arti orang orang yang melakukan keamanan di kampung atau di rumah dari lurah.
Para Ukung juga mempunyai pembantu yang di
sebut Meweteng. Tugas mereka mulanya membantu Ukung untuk
mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil
dari Ro'ong / Wanua. Pembagian ini sesuai dengan yang sudah
disepakati bersama.
Selain itu pula ada pembantu Ukung yang berfungsi sebagai
penasihat, terutama dalam hal hal yang sulit dalam masalah adat. Penasihat
penasihat seperti ini adalah para tetua yang dihormati dan disegani yang
dianggap bijaksana, tidak mempunyai cacat dan dapat dijadikan contoh di
dalam Wanua, yang di namakan Pa Tu'usan (yang dapat dijadikan
contoh).
Ro'ong / Wanua bertambah dari waktu ke waktu menjadi
beberapa Wanuatertentu yang akhirnya disebut Walak.
Para pemimpin Minahasa sejak berabad yang lalu mendasarkan
keputusannya pada apa musyawarah atau Paesa in Deken (tempat
mempersatukan pendapat). Dari nama itu jelas terlihat bahwa seluruh keputusan
yang diambil merupakan hasil dari musyawarah.
Sekalipun demikian faktor dominan yang sering menentukan dalam
pengambilan keputusan adalah pendapat dari sang pemimpin. Telah menjadi suatu
kelaziman bahwa pada setiap akhir pengutaraan pendapatnya, sang pemimpin
senantiasa selalu mengatakan: " Dai Kua?" (bukankah begitu?) dan
hampir selalu jawaban dari anggota adalah: " Taintu" (memang
begitu). Hal tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa pendapat dari pemimpin adalah
pendapat dari sebagian besar dari para anggota.
Sudah menjadi ketentuan bahwa semua ketentuan yang di putuskan
harus di ikuti walau pun tidak di setujui oleh sebagian anggota. Sanksi atas
penolakan dari Paesa in Deken ini sangat berat, yaitu : pengucilan
dari masyarakat . Hukuman ini sangat berat sebab tidak seorang pun
dari Taranak yang menghiraukan nasib dari terhukum. Bila ia menjadi
incaran musuh, ia tidak dapat mengharapkan untuk mendapatkan pertolongan dari
siapapun juga. Ketentuan inilah yang merupakan kewibawaan dari pada para
kepala/tu'a di Minahasa pada zaman dulu.
Namun, bila pemimpin bertindak tidak sesuai dengan ketentuan adat
atau meresahkan masyarakat maka para anggota masyarakat dengan sekuat tenaga
akan menjatuhkan mereka. Hal ini telah di demonstrasikan oleh rakyat Minahasa
sewaktu menghadapi para kepala Walak. Atas tekanan rakyat, kompeni dengan
segala kekuasaannya tunduk dan memberikan persetujuan penggantian kedudukan.
Pada tahun 1679 Padtbrugge menulis: Diluar musyawarah resmi yang
dipimpin oleh para Ukung adapulah musyawarah musyawarah lain orang
orang Minahasa. Dan keputusan keputusan hanya dapat di ambil berdasarkan suara
terbanyak, tanpa memperhitungkan perbedaan dan pengecualian para peserta; dalam
hal ini mereka tidak akan berubah, dan tidak ada satu kekuatan apapun didunia
yang dapat menggeser mereka setapak saja, biarpun hal itu akan merugikan dan
membawa kehancuran bagi mereka."
Yang di maksud adalah musyawarah yang diadakan di luar
para Ukung, bila keputusan atau kebijaksanaan para Ukung yang di
anggap oleh bagian terbesar anggota masyarakat bertentangan dengan ketentuan
ketentuan, adat istiadat yang berlaku. Sumber kekerasan hati mereka untuk
mempertahankan keputusan musyawarah adalah keyakinan, bahwa para dewa ada di
pihak mereka. Dalam hal demikian para Ukung telah di anggap telah
melanggar peraturan para dewa. Keputusan yang mereka ambil, dan yang telah
dimeteraikan dengan sumpah, di artikan bahwa sesuatu yang telah diserahkan
kepada dewa yang selalu disebut dalam sumpah itu, bukan sekedar memohon pertolongan.
Dengan demikian sekalipun Paesaan in Deken mengandung
benih otoriterisme, dan memberi kesempatan pada seorang pemimpin untuk itu,
musyawarah seperti ini (yang di adakan di luar otoritas para Ukung)
merupakan peringatan kepada para Ukung untuk tidak menyalahi
ketentuan ketentuan adat. Inilah unsur demokrasi yang pernah ada di Minahasa.
Selain itu di Minahasa tidak pernah ada pewarisan kedudukan seorang
kepala, bila seorang Tu'ur in Taranak meninggal dunia para
anggota Taranak baik wanita maupun pria yang sudah dewasa, akan
mengadakan musyawarah untuk memilih seorang pemimpin baru. Dalam pemilihan yang
menjadi sorotan adalah kualitas. Bila ada dua orang yang kualitasnya sama dan
sebagai ucapan terima kasih kepada pemimpin itu semasa kepemimpinannya. Itu
berarti sang ayah dalam masa kepemimpinannya semasa hidupnya adalah pemimpin
yang baik.
Kriteria Kualitas yang di perlukan itu ada tiga ( Pa'eren
Telu):
Ngaasan - Mempunyai otak; hal mana dia mempunyai keahlian
mengurus Taranak atau Ro'ong.
Niatean - Mempunyai hati; mempunyai keberanian, ketekunan,
keuletan menghadapi segala persoalan, sanggup merasakan apa yang dirasakan oleh
angota lain.
Mawai - Mempunyai kekuatan dan dapat di andalkan ; seorang
yang secara fisik dapat mengatasi keadaan apapun, sanggup menghadapi peperangan
.
Dengan demikian, jelas tidak mudah untuk diakui dan dipilih sebagai
pemimpin dalam masyarakat Minahasa di masa lampau. Juga jelas bahwa fungsi
pemimpin di Minahasa tidak pernah terjadi karena warisan.
Dr. Riedel menulis:
"Di Minahasa, setiap orang dapat di panggil (dipilih) untuk
menjalankan pemerintahan. Sesuai dengan adat istiadat di daerah ini,
para Paendon Tua, di pilih oleh para Awu. "
Dalam Mapalus, prinsip yang sama kelihatan yang mana para
wanita memikul cangkul, sekop dll. Ketentuan ini bukan berarti wanita mempunyai
kedudukan lebih rendah akan tetapi kaum pria mempunyai kewajiban untuk menjaga
keamanan rombongan Mapalus itu, dan mereka di haruskan membawa
parang, tombak dan alat perang lainnya.
Ketentuan organisasi Mapalus ini di jalankan dengan ketat
sama dengan ketentuan adat lainnya. Pada waktu pembentukan pimpinan (dalam
bahasa tontemboan Kumeter), sesudah teripilih, pemimpin harus di cambuk
oleh salah satu pimpinan di kampung dengan rotan, sambil mengucapkan
"sebagaimana kerasnya aku mencambukmu begitu juga kerasnya kau harus
mencambuk anggota yang malas dan pelanggar peraturan".
Dan ketentuan ini masih berlangsung sampai sekarang di beberapa
daerah di Minahasa.
Arti Mapalus telah mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Pada mulanya dalam masyarakat
kuno, Mapalusmasih mempunyai arti yang sama dengan gotong royong
karena tanah pertanian masih milik bersama. Akan tetapi karena perkembangan
masyarakat selanjutnya, dimana milik perorangan telah tercipta dan menonjol,
maka arti Mapalusberubah menjadi tolong menolong. Seperti sekarang
setiap anggota Mapalusberhak untuk mendapat bantuan dari anggota
anggota lain sebagai jasa karena dia sudah membantu anggota lain dalam
melakukan pekerjaan baik di sawah, ladang, rumah dll.
Mapalus (tolong menolong). Dalam Mapalus, prinsip yang sama
kelihatan yang mana para wanita memikul cangkul, sekop dll. Ketentuan ini bukan
berarti wanita mempunyai kedudukan lebih rendah akan tetapi kaum pria mempunyai
kewajiban untuk menjaga keamanan rombongan Mapalus itu, dan mereka di haruskan
membawa parang, tombak dan alat perang lainnya.
Ketentuan organisasi Mapalus ini di jalankan dengan ketat sama dengan ketentuan
adat lainnya. Pada waktu pembentukan pimpinan (dalam bahasa tontemboan
Kumeter), sesudah teripilih, pemimpin harus di cambuk oleh salah satu pimpinan
di kampung dengan rotan, sambil mengucapkan "sebagaimana kerasnya aku
mencambukmu begitu juga kerasnya kau harus mencambuk anggota yang malas dan
pelanggar peraturan". Dan ketentuan ini masih berlangsung sampai sekarang
di beberapa daerah di Minahasa.
KEPERCAYAAN
Orang minahasa dahulu kala mempunyai sistem kepercayaan tradisional
yang bersifat monotheisme. Agama suku minahasa adalah agama yang memuja adanya
satu pencipta yang superior yang disebut Opo Wailan Wangko ,Empung. Agama asli
minahasa oleh orang eropa disebut Alifuru,yang memiliki cirri animisme,walaupun
hal ini ditolak oleh sejumlah ahli.
Unsur-unsur kepercayaan pribumi yang dapat disaksikan pada
orang Minahasa yangsekarang secara resmi telah memeluk agama-agama Protestan,
Katolik maupun Islammerupakan peninggalan sistem religi zaman dahulu sebelum
berkembangnya agama Kristen.Unsur-unsur ini mencakup : konsep-konsep dunia
gaib, makhluk dan kekuatan adikodrati(yang dianggap “baik” dan “jahat” serta
manipulasinya, dewa tertinggi, jiwa manusia, benda berkekuatan gaib,
tempat keramat, orang berkekuatan gaib, dan dunia akhirat).Unsur-unsur religi
pribumi terdapat dalam beberapa upacara adat yang dilakukanorang yang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup individu, sepertikelahiran,
perkawinan, kematian maupun dalam bentuk-bentuk pemberian kekuatan gaibdalam
menghadapai berbagai jenis bahaya, serta yang berhubungan dengan pekerjaan
ataumata pencaharian. Unsur-unsur ini tentu juga tampak dalam wujud sebagai
kedukunan(sistem medis makatana) yang sampai sekarang masih hidup.
Dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh makhluk-makhluk
halus sepertiroh-roh leluhur baik maupun jahat, hantu-hantu dan kekuatangaib
lainnya. Usaha manusiauntuk mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk tersebut
bertujuan supaya hidupmereka tidak diganggu sebaliknya dapat dibantu dan
dilindungi, dengan mengembangkansustu kompleks sistem upacara pemujaan yang
dahulu dikenal sebagai na’amkungan atauma’ambo atau masambo.Dalam mitologi
orang Minahasa rupanya sistem kepercayaan dahulu mengenal banyak dewa,
salah satunya adalah dewa tertinggi. Dewa oleh penduduk disebut empung atauopo,
dan untuk sewa yang tertinggi disebut opo wailan wangko. Dewa yang penting
sesudahdewa tertinggi ialah karema.Opo wailan wangko dianggap sebagai pencipta
seluruh alam dan isinya yang dikenaloleh manusia yang memujanya. Karema yang
mewujudkan diri sebagai manusia adalahsebagai penunjuk jalan bagi lumimuut
(wanita sebagai manusia pertama) untuk mendapatkanketurunan seorang pria yang
bernama to’ar, yang juga dianggap sebagai pembawa adatkhususnya cara-cara
pertanian yaitu sebagai cultural hero (dewa pembawa adat).Roh leluhur juga
disebut opo, atau sering disebut dotu yang pada masa hidupnyaadalah seorang
yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan seperti
pemimpin-pemimpinkomunitas besar ( kepala walak dan komunitas desa; tona’as ).
Mereka juga dalam hidupnyamemiliki keahlian dan prestasi seperti dalam perang,
keagamaan dan kepemimpinan. Adakepercayaan bahwa opo-opo yang baik akan senantiasa
menolong manusia yang dianggap sebagai cucu mereka(puyun) apabila mengikuti
petunjuk-petunjuk yang diberikan. Pelanggaran yang terjadi dapat mangakibatkan
yang bersangkutan akan mengalami bencanaatau kesulitan hidup akibat murka
opo-opo, ataupun kekuatan sakti yang diberikan akanhilang. Disamping itu, ada
juga opo-opo yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yangtidak baik,
seperti untuk mencuri, berjudi dsb.Konsepsi makhluk halus lainnya seperti hantu
ialah panunggu, lulu, puntianak, pok- pok dsb yang dianggap berada di
tempat tertentu dan pada saat dan keadaan tertentu dapatmaengganggu manusia.
Untuk menghadapi hal-hal tersebut sangat dirasakan peranan dariopo-opo yang
dapat menghadapi atau mengalahkan mereka atau mengatasi gangguan darimereka.Roh
(mukur) orangtua sendiri ataupun roh-roh kerabat yang sudah meninggaldianggap
selalu berada di sekitar kelurganya yang masih hidup, yang sewaktu-waktu
datangmenun jukkan dirinya dalam bentuk bayangan atau mimpi atau dapat pula
melalui seseorangsebagai media yang dimasuki oleh mukur sehingga bisa
bercakap-cakap dengan kerabatnya.Mukur yang demikian tidak dianggap berbahaya
malahan bisa menolong kerabatnya.Kepercayaan orang Minahasa bahwa ada bagian
tubuh yang mempunyai kekuatansakti seperti rambut dan kuku. Binatang-binatang
yang memiliki kekuatan sakti adalah ular hitam dan beberapa jenis burung,
terutama burung hantu (manguni). Untuk tumbuh-tumbuhan yang memiliki kekuatan
sakti adalah tawa’ang, goraka (jahe), balacai, jeruk suangidll. Gejala alam
seperti gunung meletus dan hujan lebat bersama petir secara
terus-menerusdianggap sebagai amarah para dewa. Senjata yang dianggap memiliki
kekuatan sakti yangharus dijaga dengan baik adalah keris, santi (pedang
panjang), lawang (tombak), dan kelung(perisai). Ucapan berupa sumpah dan
kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang dianggapdapat mengakibatkan
malapetaka, apalagi kalau yang mengatakannya orangtua, kata-katanyadianggap
memiliki kekuatan sakti. Benda-benda jimat baik yang diwariskan orangtua
ataupunyang didapat dari walian atau tona’as yang disebut
paereten adalah benda-benda yangkesaktiannya dipercaya yang sampai sekarang
masih dipakai.Jiwa yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia
yangmenyebabkan adanya hidup, rupanya memiliki konsepsi yang sama dengan jiwa
sesudahmeninggalkan tubuh karena mati atau roh. Konsepsi jiwa dan roh ini
disebut katotouan.Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah : gegenang
(ingatan), pemendam(perasaan), dan keketer (kekuatan). Gegenang adalah unsure
yang utama dalam jiwa.Pada saat sekarang, sesuai dengan aturan-aturan agama
Kristen, maka konsepsi duniaakhirat (sekalipun untuk mereka yang masih
melakukan upacara-upacara kepercayaan pribumi untuk mendapatkan kekuatan
sakti dari makhluk-makhluk halus) ialah surga bagiyang selamat, serta neraka
bagi yang berdosa dan tidak percaya.Upacara-upacara keagamaan pribumi masih
banyak dilakukan oleh orang minahasasebagai perwujudan untuk mengadakan
hubungan dengan dunia gaib atau sebagaikelakuaknreligi atas dasar suatu emosi keagamaan,
upacara-upacara itu diantaranya adalah yang biasadilakukan pada malam hari di
rumah tona’as atau di rumah orang lain, bisa juga di tempat-tempat keramat
seperti kuburan opo-opo, batu-batu besar dan di bawah pohon besar. Padasaat
tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu Pinabetengan,
tempat dimana secara mitologis paling keramat di Minahasa.Upacara dilakukan
pada saat tertentu, misalnya pada malam bulan purnama. Tokohtradisional yang
melakukan dan memimpin upacara keagamaan pribumi dikenal dengan namawalian,
pemimpin upacara dapat dipegang oleh wanita atau pria.
Agama-agama resmi yang umum diatur oleh orang Minahasa
antara lain Protestan(yang terdiri dari berbagai sekte), katolik dan Islam.
Terlepas dari tingkat kepercayaan perseorangan, unsure-unsur religi
pribumi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan keagamaan.Misalnya komponen
pribumi terpadu bersama komponen Kristen yang diluar upacara-upacara formal
Gerejani seperti yang terlihat dalam upacara-upacara dari masa hamil sampaimasa
meninggal maupun pada perilaku keagamaan sehari-hari. Sebagaimana yang
telahdikemukakan pada contoh sebelumnya dapat dilihat adanya komponen religi
pribumi dalamkebudayaan Minahasa yang secara mendalam telah mengalami perubahan
melalui jalur-jalur kolonialisme, pendidikan formal, dan kristenisasi
maupun jalur-jalur kontak atau difusi budaya lainnya.
MATA PENCAHARIAN
Di Minahasa, jaringan jalan raya tergolong baik, serta
adanyapelabuhan Bitung dan bandara Sam Ratulangi, adanya industri-industrikecil,
toko-toko di kota, dan kegiatan-kegiatan ekonomi modern lainnyamemang secara
erat berhubungan dengan, dan sangat mempengaruhi,ekonomi pedesaan yang
berpangkal pada sektor pertanian rakyat yang masih tradisional. Ekonomi
pedesaan di Minahasa mempunyai bentuktersendiri yang menunjukkan adanya
perbedaan dari masyarakat-masyarakat pedesaan lainnya, seperti Sangir,
Gorontalo, Bolaang Mongondow, Jawa, Bali, dan sebagainya, terutama dari segi
sosiobudaya.Namun, pernyataan ini tidak mengabaikan adanya kenyataan-kenyataan
variasi intrabudaya di dalam setiap masyarakat etnis ini, bukan hanyaseperti
yang dimaksud dengan keragaman pola-pola kegiatan ekonomitersebut di atas
tetapi juga keragaman antarlokalitas pedesaan yangdiperlihatkan oleh setiap
kegiatan ekonomi karena keragaman subbudaya maupun karena variasi lingkungan
fisik yang melahirkan bentukadaptasi yang berbeda-beda. Berbagai prasarana,
sarana, dan pranata ekonomi di Minahsa sekarang telah mengalami perkembangan,
jauh berbeda dari masa-masa, katakanlah Orde Baru. Jalan, jembatan, dan
pengangkutan darat telah cukup berkembang, menyebabkan tidak adalagi desa -
yang memiliki peranan ekonomis berarti – yang masihterisolasi. Sekalipun
desa-desa secara ekonomis tergolong tidak pentingdengan jaringan jalan yang
tidak beraspal, namun dapat dijangkaudengan kendaraan umum. Sekarang, desa-desa
terpencil yang yang hanya dapat dicapai dengan gerobak sangat terbatas
jumlahnya. Namun peranan gerobak ini masih dapat mencukupi kebutuhan distribusi
dan pengankutan keluar desa-desa jenis ini. Rata-rata panjang jalan
gerobak(jalan roda) ini sampai pada jalan atau desa lain yang terletak
dalam jaringan lalulintas kendaraan bermotor adalah sekitar 5 km, suatu
jarakyang relatif singkat. Panjang jalan di kabupaten Minahasa adalah
722.052km; terdiri dari jalan Negara 213,860 km, jalan provinsi 118.075 km,
dan jalan kabupaten 390.605 km (BAPPEDA tingkat II Minahasa 1985 :
63).Selain kemajuan sarana dan prasarana pengangkutan darat, bandara
SamRatulangi dan pelabuhan samudra Bitung terus mengalamipengembangan dan
peningkatan daya tamping pemakai-pemakainyamaupun bagi berbagai kegiatan
ekonomi, langsung maupun tidaklangsung.Berbagai pabrik, pertokoan yang menjual
barang-barang mewahmaupun kebutuhan sehari-hari, kegiatan-kegiatan perdagangan
ekspordan impor antar pulau maupun lokal, dan masih banyak lagi
lainnya,kesemuanya tergolong pada kegiatan ekonomi modern,
menunjukkangejala-gejala perkembangan ekonomi.
Kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik dipenuhi dengan adanya
pembangkit listrik tenaga air pada sungai Tondano di desa Tanggariselain
pembangkit listrik tenaga air terjun di Tonsea Lama yang sudahdibangun sejak
sebelum Perang Dunia II, yang menyebabkan peningkatanpertumbuhan berbagai
industri dan kegiatan ekonomi lainnya. Demikianpula pusat pendayagunaan panas
bumi seperti yang terdapat di Lahendong.Dalam sektor pertanian sudah sejak masa
sebelum Perang Dunia IIberkembang perkebunan rakyat tanaman industri, terutama
kelapa,cengkeh, kopi, dan pala. Perkebunan-perkebunan tersebut terusmengalami
peningkatan intensifikasi dan ekstensifikasi dengan metodedan teknologi
pertanian modern. Komoditi lain seperti coklat, vanili, jaheputih, dan jambu
mete, juga sudah digiatkan secara intensif.Persawahan juga menunjukkan
perkembanga dalam peningkatanproduksi padi, misalnya perbaikan dan pembangunan
irigasi, penggunaanpupuk dan bibit unggul.
Pertebatan ikan mas dengan mempraktekkanmetode baru
(menggunakan air yang mengalir deras ke dalam tebat-tebat yang terbuat dari
semen) sudah dijalankan di banyak desa,terutama oleh petani-petani
kaya.Perladangan tradisional (kebun kering) yang umum di MInahasa
ialahperladangan jagung, umumnya untuk konsumsi petani sendiri. Bisanyapetani
menanam pula dalam kebun jagung berbagai jenis sayur, tanamanbumbu masakan, dan
buah-buahan (terutama kelapa, alpukat, papaya, jeruk, nangka, sirsak,
jambu biji, jambu air) untuk konsumsi sendiri.Pemerintah Daerah telah
mengusahakan peningkatan produksi melaluiKoperasi Unit Desa (KUD).Selain
pengembangan perikanan laut yang dilaksanakan oleh perikaniyang berpusat di
Aertembaga, terutama penangkapan dan pengolahancakalang. Nelayan tradisional
mulai meningkatkan produksi berbagai jenisikan dan binatang laut dengan
menggunakan peralatan yang lebih baik.
Teknologi tradisional dipergunakan pula dalam penangkapan
jenis-jenis biotic sumber protein di danau-danau dan sungai-sungai. Desa-desa
disekeliling danau Tondano ada segolongan penduduk yang khususmenjalankan
kegiatan menangkap berbagai jenis ikan dan binatangdanau. Golongan nelayan ini
mengisi sebagian dari kebutuhan proteinhewani yang dapat diperoleh di pasar di
kota-kota.Hutan merupakan sumber energi maupun materi untuk berbagaikebutuhab
penduduk. Berbagai jenis kebutuhan makanan (binatang dantumbuhan) untuk
kebutuhan sehari-hari maupun untuk pesta, bersumberdari hutan. Jenis binatang
yang umum dimakan ialah babi hutan, tikushutan (ekor putih), dan kalong.
Sedangkan yang lainnya jarang dimakankarena sudah tergolong langka atau tidak
umum dimakan oleh orangMinahasa seperti rusa, anoa, babirusa, monyet, ular
piton, biawak, ayamhutan, telur burung maleo, dan jenis-jenis unggas lainnya.
Berbagai jenistumbuhan liar baik yang terdapat di hutan maupun
lingkungan-lingkungan fisik lainnya merupakan bahan makanan yang
memenuhikebutuhan sayuran, terutama Pangi rebung, dan pakis.
Demikian pulahutan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan seperti
mangga, Pakoba dan kemiri. Selain itu, enau (tumbuhan ini tumbuh di hutan
maupun kebun) merupakan sumber nira sebagai minuman yng terkenal di Minahsa(disebut
saguer ), maupun bahan gula merah.Hutan juga merupakan sumber daya untuk
berbagai kebutuhan kayusebagai bahan untuk membuat berbagai alat, dan bahan
untuk bangunangedung dan rumah. Selain dari pada itu, hutan dan lingkungan
fisiklainnya merupakan tempat bertumbuhnya tanaman-tanaman yangmember
bahan-bahan untuk berbagai kebutuhan umum, seperti rotan,kayu bakar, dan daun
rumbia (bahan atap rumah). Sayang sekali luashutan di Minahasa semakin
berkurang terutama karena ekstensifikasiperkebunan cengkeh yang dilakukan oleh
penduduk desa dan kota.
PEMERINTAHAN
Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau
mengangkatseorang raja sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemerintah adalah
kepala keluargayang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an yang sekarang kita
kenal dengan sebutanHukum Tua. Kata ini berasal dari Ukung Tua yang berarti
Orang tua yang melindungi.Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. Tua : dewasa
dalam usia, berpikir, sertadidalam mengambil Kehidupan demokrasi dan kerakyatan
terjamin Ukung Tua tidak boleh memerintah rakyat dengan
sewenang-wenang karena rakyat itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya,
keluarganya sendiri Sebelum membuka perkebunan, berunding dahuludan setelah itu
dilakukan harus dengan mapalus Didalam bekerja terdapat
pengatur atau pengawas yang di Tonsea disebut Mopongkol
atau Rumarantong, di Tolour disebutSumesuweng.Di Minahasa tidak dikenal sistim
perbudakan, sebagaimana lasimnya di daerah lain pada saman itu, seperti di
kerajaan Bolaang,Sangir, Tobelo, Tidore dll. Hal ini membuat beberapa
dari golongan Walian Makaruwa Siyow (eksekutif ingin diperlakukan sebagairaja.
seperti raja Bolaang, raja Ternate, raja Sanger yang mereka dengar dan temui
disaat barter bahan bahan keperluan rumah tangga. Setelah cara tersebut
dicoba diterapkandimasyarakat Minahasa oleh beberapa walian/hukum
tua timbul perlawanan yangmemicu terjadinya pemberontakan serentak di
seluruh Minahasa oleh golongan rakyat/Pasiyowan Telu, Alasannya karena,
bukanlah adat pemerintahan yang diturunkan OpoToar Lumimuut, dimana kekuasaan
dijalankan dengan sewenang-wenang.Akibat pemberontakkan itu, tatanan kehidupan
di Minahasa menjadi tidak menentu, peraturan tidak diindahkan Adat
istiadat rusak, Perebutan tanah pertanian antar keluargaHal ini membuat
golongan makarua/makadua siow (tonaas) merasa perlu mengambiltindakan
pencegahan dengan mengupayakan musyawarah raya yang dimotori olehTonaas-tonaas
senior dari seluruh Minahasa di Watu Pinabetengan.Luas Minahasa pada jaman ini
adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muarasungai Ranoyapo ke gunung
Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayahsetelah sungai Ranoyapo dan
Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan
Bolaang Mongondow, sampai kira-kira abad ke-14.Dalam musyawarah yang dihadiri
oleh seluruh keturunan Toar Lumimuut, memilihTonaas Kopero dari Tompakewa
sebagai ketua yang dibantu anggota Tonaas Muntuuntudari Tombulu dan Tonaas
Mandey dari Tonsea.mereka bertugas untuk konsolidasi ketigagolongan Minahasa
tsb.
BAHASA
Di Minahasa ada sekitar empat bahasa daerah diantaranya
bahasa Totemboan, Tombulu, Tonsea, Bantik, Tonsawang.
Dalam kehidupansehari-hari masyarakat di Kota Tomohon selain
menggunakan BahasaIndonesia sebagai bahasa percakapan juga menggunakan bahasa
daerahMinahasa. Seperti diketahui di Minahasa terdiri dari delapan macam
jenisbahasa daerah yang dipergunakan oleh delapan etnis yang ada,
seperti Tountemboan, Toulour, Tombulu, dll. Bahasa daerah yang paling
seringdigunakan di Kota Tomohon adalah bahasa Tombulu, karena memangwilayah
Tomohon termasuk dalam etnis Tombulu. Selain bahasapercakapan di atas, ternyata
ada juga masyarakat di Minahasa dan Kota Tomohon khususnya para orang tua
yang menguasai Bahasa Belandakarena pengaruh jajahan dari Belanda serta
sekolah-sekolah jamandahulu yang menggunakan Bahasa Belanda. Saat ini, semakin
harimasyarakat yang menguasai dan menggunakan Bahasa Belanda tersebutsemakin
berkurang seiring dengan semakin berkurangnya masyarakatberusia lanjut.
KESENIAN
ALAT MUSIK
Kolintang adalah instrument musik tradisional yang sudah
sangatterkenal di Indonesia. Instrument kolintang telah diketahui sejak
jamandahulu dan telah dipopulerkan oleh masyarakat melalui berbagaimacam
pertunjukan. Instrument ini semuanya terbuat dari kayu dandisebut
"mawenang".
Musik Bambu
Musik bambu adalah alat musik yang dibuat dari bambu dandimainkan
oleh kurang lebih 40 orang. beberapa jenis musik bambuadalah :
LAGU DAERAH
MAKANAN
TARI-TARIAN
Tari Maowey Kamberu
Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada
acarapengucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasilpertanian
terutama tanaman padi yang berlipat ganda/banyak.
Tari Marambak
Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan,
rakyatMinahasa Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumahdibangun
maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasadaerah disebut “rumambak”
atau menguji kekuatan rumah baru dansemua masyarakat kampong diundang dalam
pengucapan syukur.
Tari Lalayaan
Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana
pemuda-pemudiMinahasa pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini
juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa.
Tari Kabasaran,Simbol Keberanian Suku Minahasa,
Tari Kabasaran merupakan tari tradisional Minahasa, propinsi
Sulawesi Utara. Tarian ini awalnya menjadi tarian perang. Tarian ini ditarikan
oleh beberapa orang lelaki Minahasa. Dalam kesehariannya, para penari Kabasaran
bertugas sebagai penari dan penjaga keamanan desa di Minahasa. Namun ketika daerah
Minahasa terancam oleh serangan musuh, penari Kabasaran menjadi Waranei,
prajurit perang. Berdasarkan adat Minahasa, tidak semua lelaki Minahasa dapat
menjadi penari Kabasaran. Yang menjadi penari biasanya keturunan dari sesepuh
penari Kabasaran. Karena sifatnya yang turun temurun itulah, setiap penari
Kabasaran memiliki sebuah senjata warisan. Senjata warisan itulah yang dibawa
oleh penari ketika pertunjukan tari Kabasaran dimulai.
Tari
Katrili
Tari Katrili merupakan salah satu kesenian dari Minahasa. Menurut
sejarahnya, tarian ini dibawa oleh bangsa Spanyol ketika menjajah bumi Minahasa
beberapa tahun silam. Kisahnya, pada waktu bangsa Spanyol itu datang dengan
maksud untuk membeli hasil bumi yang ada di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan
hasil yang banyak, mereka menari-nari tarian katrili sebagai ekspresi
kegembiraan.
Lama-kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat Minahasa yang akan
menjual hasil bumi mereka didalam menari bersama-sama sambil mengikuti irama
musik dan aba-aba. Ternyata tarian ini boleh juga dibawakan pada waktu acara
pesta perkawinan di tanah Minahasa. Sekembalinya Bangsa Spanyol
kenegaranya dengan membawa hasil bumi yang dibeli di Minahasa, maka tarian ini
sudah mulai digemari Rakyat Minahasa pada umumnya. Tari katrili termasuk tari
modern yang sifatnya kerakyatan.
Tari
Maengket
Maengket adalah tarian tradisional orang Minahasa. Tarian ini telah
ada sejak zaman dahulu kala. Sampai saat ini tarian ini masih terus berkembang
dan dilestarikan. Tarian ini sudah ada di tanah minahasa sejak orang minahasa
mengenal pertanian terutama padi di ladang. Jika dulu nenek moyang minahasa, tarian
maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang
hanya sederhana, maka saat ini tarian ini telah berkembang teristemewa bentuk
tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair atau sastra lagunnya.
tarian maengket ini terdiri dari tiga babak, yaitu maowey kamberu, marambak dan
lalayaan. Maowey kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan sebagai bentuk
pengucapan syukur kepada Tuhan yang maha esa, karena hasil panen diladang/ di
kebun yang berlimpah. Marambak adalah tarian dengan semangat mapalus (gotong
royong), dalam hal ini orang mihanasa jika akan membangun rumah selalu bekeraja
sama. dan setelah rumahnya selesai di bangun maka akan diadakan “rumambak” atau
pesta naik rumah baru. dan semua penduduk di desa di undang untuk naik kerumah
untuk menguji kekuatan rumah tersebut. Lalayaan adalah sebuah tari pergaulan
pemuda dan pemudi minahasa yang pada zaman dahulu digunakan untuk mencari
jodoh.
RUMAH ADAT, PAKIAN DAN SENJATA TRADISIONAL
Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga
didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga
tersebut dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah
satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang
sebelahnya.
Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari
bajusejenis kebaya, disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Selain itu, merekapun
memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan, yangbahannya terbuat
dari tenunan bentenan. Sedangkan kaum pria memakai baju karai, baju tanpa
lengan dan bentuknya lurus, berwarna hitam terbuat dari ijuk. Selain baju
karai, ada juga bentuk baju yang berlengan panjang, memakai krah dan saku
disebut baju baniang. Celana yang dipakai masih sederhana, yaitu mulai dari
bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama.Pada
perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa
dan Cina. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri
dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Sedangkan pengaruh
Cina adalah kebayawarna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan
bunga-bungaan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang(baniang)
yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Bahan baju
ini terbuat dari kain blacu warna putih. Pada busana pria pengaruh Cina tidak
begitu tampak.
Baju Ikan Duyung
Pada upacara perkawinan, pengantin wanita mengenakan busana
yangterdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih
dengan sulaman motif sisik ikan. Model busana pengantin wanita ini dinamakan
baju ikan duyung. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung, terdapat juga
sarong motif sarang burung, disebut model salim burung, sarong motif kaki
seribu, disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga, disebut
laborci-laborci.Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah
sanggul atau bentuk konde, mahkota (kronci), kalung leher (kelana), kalung
mutiara (simban), anting dan gelang. Aksesori tersebut mempunyai berbagai
variasi bentuk dan motif. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut
konde lumalundung, sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang
disebut konde pinkan. Motif Mahkota pun bermacam-macam, seperti motif
biasa, bintang, sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung
cendrawasih.Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup
atau terbuka, celana panjang, selendang pinggang dan topi (porong).
Busanapengantin baju jas tertutup ini, disebut busana tatutu. Potongan
bajutatutu adalah berlengan panjang, tidak memiliki krah dan saku.
Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi, yang terdapat pada
hiasantopi, leher baju, selendang pinggang dan kedua lengan baju.
Busana Pemuka Adat
Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah
tinggi, potongan baju lurus, berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan
hiasan motif bunga padi pada leher baju, ujung lengan dansepanjang ujung baju
bagian depan yang terbelah. Semua motif berwarnakuning keemasan. Sebagai
kelengkapan baju dipakai topi warna merahyang dihiasi motif bunga padi warna
kuning keemasan pula.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari
baju Tonaas Wangko, hanya saja lebih panjang seperti jubah. Warna baju
putih dengan hiasan corak bunga padi. Dilengkapi topi porong nimiles, yang
dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merah hitam dan
kuning-emas,perlambang penyatuan 2 unsur alam, yaitu langit dan bumi, dunia
danalam baka. Sedangkan Walian Wangko wanita, memakai baju kebaya panjang warna
putih atau ungu, kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci).
Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Dilengkapi selempang warna kuning atau
merah, selop, kalung leher dan sanggul.Hiasan yang dipakai adalah motif bunga
terompet.
SENJATA TRADISIONAL
UPACARA ADAT
1.
Monondeaga
Upacara adat ini merupakan sebuah upacara adat yang biasa dilakukan
oleh suku Minahasa terutama yang berdiam di daerah Bolaang
Mongondow. Pelaksanaan upacara adat ini sendiri adalah untuk memperingati atau
mengukuhkan seorang anak perempuan ketika memasuki masa pubertas yang ditandai
dengan datangnya haid pertama. Secara garis besar, upacara adat ini dilakukan
sebagai bentuk syukur dan sekaligus semacam uwar-uwar bahwa anak gadis dari
orang yang melaksanakan upacara adat ini telah menginjak masa pubertas. Untuk
itu, agar kecantikan dan kedewasaan sang anak gadis lebih mencorong, maka dalam
upacara adat ini sang gadis kecil pun daun telinganya ditindik dan dipasangi
anting-anting layaknya gadis yang mulai bersolek, kemudian gigi diratakan
(dikedawung) sebagai pelengkap kecantikan dan tanda bahwa yang bersangkutan
sudah dewasa
.
2.
Mupuk Im Bene
Sebenarnya upacara Mupuk Im Bene itu hakikatnya mirip dengan upacara syukuran
selepas melaksanakan panen raya, seperti halnya yang lazim kita saksikan di
pulau Jawa ketika menggelar acara mapag sri dan atau munjungan. Dan memang,
esensi dari ritual ini sendiri adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada
Tuhan atas segala rizki yang mereka dapat, atau yang dalam bahasa setempat
disebut dengan Pallen Pactio. Prosesi dari upacara adat ini adalah secara
ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: Masyarakat yang hendak melaksanakan
upacara Mupuk Im Bene ini membawa sekarung padi bersama beberapa hasil bumi
lainnya ke suatu tempat dimana upacara ini akan dilakanakan (biasanya di
lapangan atau gereja) untuk didoakan. Kemudian selepas acara mendoakan hasil
bumi ini selesai maka dilanjutkan dengan makan-makan bersama aneka jenis
makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibu-ibu tiap rumah.
3.
Metipu
Metipu merupakan sebuah upacara adat dari daerah Sangihe Talaud berupa
penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta yang disebut Benggona Langi
Duatan Saluran. Prosesi dari upacara adat ini adalah dengan membakar daun-daun
dan akar-akar yang mewangi dan menimbulkan asap membumbung ke hadirat-Nya,
sebagai bentuk permuliaan penduduk setempat terhadap pencipta-Nya.
4. Watu Pinawetengan
Kalimat atau istilah Musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan bersatu kita
teguh bercerai kita runtuh ternyata bukan hanya monopoli beberapa kaum saja,
dan tentu saja itu bukanlah isapan jempol yang tanpa makna.
Suku minahasa pun memiliki satu upacara adat yang memang dilaksanakan
untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan anatar penduduknya. Upacara adat itu
dalam suku Minahasa disebut dengan upacara Watu Pinawetengan.
Konon berdasarkan cerita rakyat yang dipegang secara turun temurun, pada zaman
dahulu terdapatlah sebuah batu besar yang disebut tumotowa yakni batu yang
menjadi altar ritual sekaligus menandai berdirinya permukiman suatu komunitas.
Dan konon lagi kegunaan dari batu tersebut merupakan batu tempat duduk para
leluhur melakukan perundingan atau orang setempat menyebutnya Watu Rerumeran ne
Empung. Dan memang, ketika Johann Gerard Friederich Riedel pada tahun 1888
melakukan penggalian di bukit Tonderukan, ternyata penggalian berhasil
menemukan batu besar yang membujur dari timur ke barat. Batu tersebut merupakan
tempat bagi para pemimpin upacara adat memberikan keputusan (dalam bentuk garis
dan gambar yang dipahat pada batu) dalam hal membagi pokok pembicaraan, siapa
yang harus bicara, serta cara beribadat.
Sementara inti dari upacara yang diselenggarakan di depan batu
besar itu adalah wata’ esa ene yakni pernyataan tekad persatuan. Semua
perwakilan kelompok etnis yang ada di Tanah Toar Lumimut mengantarkan bagian
peta tanah Minahasa tempat tinggalnya dan meletakkan di bagian tengah panggung
perhelatan. Diiringi musik instrumentalia kolintang, penegasan tekad itu
disampaikan satu persatu perwakilan menggunakan pelbagai bahasa
di Minahasa. Setelah tekad disampaikan mereka menghentakkan kaki ke tanah
tiga kali. Pada penghujung acara para pelaku upacara bergandengan tangan
membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian: Royorz endo.
3. Pernikahan
Suku Minahasa
Proses Pernikahan adat yang selama ini dilakukan di tanah Minahasa telah
mengalami penyesuaian seiring dengan perkembangan jaman. Misalnya ketika proses
perawatan calon pengantin serta acara "Posanan" (Pingitan) tidak lagi
dilakukan sebulan sebelum perkawinan, tapi sehari sebelum perkawinan pada saat
"Malam Gagaren" atau malam muda-mudi. Acara mandi di pancuran air
saat ini jelas tidak dapat dilaksanakan lagi, karena tidak ada lagi pancuran
air di kota-kota besar. Yang dapat dilakukan saat ini adalah mandi adat
"Lumelek" (menginjak batu) dan "Bacoho" karena dilakukan di
kamar mandi di rumah calon pengantin. Dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan
sekarang ini, semua acara / upacara perkawinan dipadatkan dan dilaksanakan
dalam satu hari saja. Pagi hari memandikan pengantin, merias wajah, memakai
busana pengantin, memakai mahkota dan topi pengantin untuk upacara "maso
minta" (toki pintu). Siang hari kedua pengantin pergi ke catatan sipil
atau Departemen Agama dan melaksanakan pengesahan/pemberkatan nikah (di
Gereja), yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Pada acara in
biasanya dilakukan upacara perkawinan ada, diikuti dengan acara melempar bunga
tangan dan acara bebas tari-tarian dengan iringan musik tradisional, seperti
tarian Maengket, Katrili, Polineis, diriringi Musik Bambu dan Musik Kolintang.
Bacoho (Mandi Adat)
Setelah mandi biasa membersihkan seluruh badan dengan sabun mandi lalu mencuci
rambut dengan bahan pencuci rambut yang banyak dijual di toko, seperti shampoo
dan hair tonic. Mencuci rambut "bacoho" dapat delakukan dengan dua
cara, yakni cara tradisional ataupun hanya sekedar simbolisasi.
Lumele’ (Mandi Adat):
Pengantin disiram dengan air yang telah diberi bunga-bungaan warna putih,
berjumlah sembilan jenis bunga yang berbau wangi, dengan mamakai gayung
sebanyak sembilan kali di siram dari batas leher ke bawah. Secara simbolis
dapat dilakukan sekedar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri, kemudian mengeringkannya
dengan handuk yang bersih dan belum pernah digunakan sebelumnya.
Upacara Perkawinan
Upacara perkawinan adat Minahasa dapat dilakukan di salah satu rumah pengantin
pria ataupun wanita. Di Langowan-Tontemboan, upacara dilakukan dirumah pihak pengantin
pria, sedangkan di Tomohon-Tombulu di rumah pihak pengantin wanita. Hal ini
mempengaruhi prosesi perjalanan pengantin. Misalnya pengantin pria ke rumah
pengantin wanita lalu ke Gereja dan kemudian ke tempat acara resepsi. Karena
resepsi/pesta perkawinan dapat ditanggung baik oleh pihak keluarga pria maupun
keluarga wanita, maka pihak yang menanggung biasanya yang akan memegang komando
pelaksanaan pesta perkawinan. Ada perkawinan yang dilaksanakan secara Mapalus
dimana kedua pengantin dibantu oleh mapalus warga desa, seperti di desa
Tombuluan.
Apabila pihak keluarga pengantin ingin melaksanakan prosesi upacara adat
perkawinan, ada sanggar-sanggar kesenian Minahasa yang dapat melaksanakannya.
Dan prosesi upacara adat dapat dilaksanakan dalam berbagai sub-etnis Minahasa,
hal ini tergantung dari keinginan atau asal keluarga pengantin. Misalnya dalam
versi Tonsea, Tombulu, Tontemboan ataupun sub-etnis Minahasa lainnya. Prosesi
upacara adat berlangsung tidak lebih dari sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan
kata sambutan, melempar bunga tangan, potong kue pengantin , acara salaman,
makan malam dan sebagai acara terakhir (penutup) ialah dansa bebas yang dimulai
dengan Polineis.
Prosesi Upacara Perkawinan di Pelaminan
Penelitian prosesi upacara perkawinan adat dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan
Minahasa Jakarta pimpinan Ny. M. Tengker-Rombot di tahun 1986 di Minahasa.
Wilayah yang diteliti adalah Tonsea, Tombulu, Tondano dan Tontemboan oleh
Alfred Sundah, Jessy Wenas, Bert Supit, dan Dof Runturambi. Ternyata keempat
wilayah sub-etnis tersebut mengenal upacara Pinang, upacara Tawa’ang dan minum
dari mangkuk bambu (kower). Sedangkan upacara membelah kayu bakar hanya dikenal
oleh sub-etnis Tombulu dan Tontemboan. Tondano mengenal upacara membelah
setengah tiang jengkal kayu Lawang dan Tonsea-Maumbi mengenal upacara membelah
Kelapa.
Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, maka upacara adat dimulai dengan
memanjatkan doa oleh Walian disebut Sumempung (Tombulu) atau Sumambo
(Tontemboan). Kemudian dilakukan upacara "Pinang Tatenge’en".
Kemudian dilakukan upacara Tawa’ang dimana kedua mempelai memegang setangkai
pohon Tawa’ang megucapkan ikrar dan janji. Acara berikutnya adalah membelah
kayu bakar, simbol sandang pangan. Tontemboan membelah tiga potong kayu bakar,
Tombulu membelah dua. Selanjutnya kedua pengantin makan sedikit nasi dan ikan,
kemudian minum dan tempat minum terbuat dari ruas bambu muda yang masih hijau.
Sesudah itu, meja upacara adat yang tersedia didepan pengantin diangkat dari
pentas pelaminan. Seluruh rombongan adat mohon diri meniggalkan pentas upacara.
Nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat dinamakan Tambahan (Tonsea), Zumant
(Tombulu) yakni lagu dalam bahasa daerah.
Suku
Minahasa jika mengubur orang meninggal
sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur).
Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti
wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam
rongga pohon lalu
ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan
waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek
moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara.
MITE DALAM SUKU MINAHASA
Burung Manguni atau Burung Tootosik, ada juga sebutan lainnya, tergantung dari
daerah Minahasa yang mana, lebih dikenal dengan sebutan Makasiyou (Makasiou),
dianggap suci dan ajaib oleh suku Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia.Namun, umumnya tetap menjadi yang disebut Burung Manguni (mauni : mengamati)
yang memang ditugaskan oleh Opo Empung Wangko (Tuhan) untuk selalu memberi
petunjuk kepada suku Minahasa dan dianggap suci. Karena dari burung Manguni ini ada terdapat banyak kekuatan yang dianggap gaib,
mungkin sudah banyak dilupakan atau sudah tidak diketahui oleh orang Minahasa.
Pada umumnya karena hal ini memang di rahasiakan dan hanya diwariskan lewat
lisan saja. Disaat leluhur suku Minahasa sedang hanyut karena peristiwa air bah dan pada
akhirnya reda, mereka disuruh pergi ke tanah yang dijanjikan oleh Opo Empung
Wangko. Mereka tidak tahu jalan lalu mereka di bimbing oleh Burung Manguni dan pada
akhirnya mereka mengerti akan perilaku dari Burung Manguni Makasiyow
(Makasiou).
Setiap Manguni melakukan 'hoot'nya nyaring mengalun dan dilakukan berturut 3
kali 9 (Telu Makasiou), maka menjadi pertanda baik untuk menyerang dalam perang
dan pasti akan menang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar