suku santani
A. Asal-Usul Suku Sentani dengan Ras Melanesia serta Letak Geografis
1. Migrasi menuju Sentani (Phuyakha Bhu)
Galis (1996) menyebutkan bahwa masyarakat Sentani berasal dari
Timur lalu menyeberang ke Barat dan menemukan danau Sentani atau Phuyakha yang
berarti air tenang. Penduduk Sentani tersebar di tiga wilayah yaitu:
- Di bagian barat terkonsentrasi di Yonokhom dan menyebar di beberapa kampung.
- Di bagian timur terkonsentrasi di pulau Asei dan menyebar di beberapa kampung
- Di bagian tengah terkonsentrasi di pulau Ajau dan menyebar di beberapa kampung.
Orang Sentani adalah kelompok masyarakat pejuang yang tangguh
mempertahankan identitas etnisnya. Walau telah mengalami geseran budaya
berkali-kali dari kelompok etnis lainnya. Sebelum menetap di tepian dan dan
pulau-pulau di danau Sentani, mereka berasa dari Honong Yo Walkhau Yo, di
seputar daerah Nyoa dan Moso di sebelah Papua New Guinea. Ketika terjadi
mograsi besar-besaran secara bergelombang, terjadi gesekan-gesekan antar
kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sehingga masuk ke danau Sentani
secara terpisah-pisah dan tidak bersamaan waktu. Kelompok pertama adalah
kelompok Asatou yang digabungi oleh sub-sub kelompok Bebuho, Asabo, Phouw,
Khele, Phualo, bermigrasi dari Honong Yo melewati Wutung, menyeberang ke
Rolowabu-wabu Yomo, bermukim disana, kemudian berangkat melewati Aukhone-Khone,
Dobon Fere, dan membuat kampung di Horoli. Dari Horoli, pindah ke
Yomokho-Waliau Yo melewati Mekhenewai. Dari Yomokho-Waliau Yo, mereka pindah
dan menetap di Oheikoi-Yo (kampong Asei). Dari Oheikoi pindah ke Raid Au Kleu
dan membuat kampung Kleubulouw. Rouboto pindah ke Waena. Kelompok Pui, Soro, Makanewai,
Youwe ditinggal di sekitar Rolowabu-wabu Yomo (Kayu Batu). Pada migrasi kedua,
berangkat dari Honong Yo, kelompok Razing Kleubeu mengambil arah selatan dengan
menggunakan perahu melewati kampong Eha (Nafri), mendaki gunung dan
membuat pemukiman sementara du Umabo Besar dan Umabo Kecil. Dari Umabo turun
ketepian Phuyakha bhu, menyeberang ke Yomokho-Waliau-Yo bergabung dengan
kelompok Asatou, mengangkat ondofolo. Kemudian bersama-sama menyeberang ke
kampung Oheikoi. Pindah ke Ebuheal ke Ayapo dan membentuk kampung Ayapo. Dari
Ayapo, kelompok Mebli Iyme ke Yokha dan membuat kampung Hebeaibulu di lokasi
bekas kampung Hebeaibulu yang telah punah. Kelompok ketiga adalah kelompok yang
dipimpin oleh Yokhu Mokho, berangkat dari Honong Yo-Walakhau-Yo, melewati
Wanimo, Wutung, lewat Mabouw, masuk teluk Yotefa bermukim di Endukha Yo,
kemudian berangkat menyeberang naik gunung Rey Humungga, terus melewati
Hokhom-Hisili, Ma Khele, Robhomfere, Atam dan masuk danau Sentani bagian tengah
dan membentuk kampung Remfale yang disebut kampung Ifale sekarang. Kelompok
yang lebih awal dari kelompok pertama, kedua dan ketiga adalah kelompok
Heaiseai. Arus migrasi terjadi Walakhau Yo, melewati dataran Ebum Fau, terus
berhenti di Yokha Wau dan mendirikan kampung Yokha Wau. Dari Yokha Wau Yo, di
sponsori oleh Ibo, Khabey dan Monim menyeberang ke Ajau, kemudian dari
Ajau menjadi pusat persebaran. Dari Ajau pindah ke Khabeite Olow dan membentuk
kampung Khabetlouw yang sekarang disebut Ifar Besar. Kemudian Monim pindah dan
mendirikan kampung Putali, dan Ibo mendirikan kampong Atamali. Rokhoro pindah
dari Ajau lebih ke arah barat daya dan mendirikan kampong Hemfolo. Kelompok
migrasi berikutnya berjalan terus kearah barat danau Sentani, tiba di Yo Waliau
Yo, di atas gunung kampung Donday. Dari Yo Waliau Yo turun ke tepian air dan
menyeberang ke pulau Yonokhom dan membentuk kampong Yo Nokhom Yo. Dari Yonokhom
pindah sebagian masyarakat kembali ke sekitar Yo Waliau Yo dan membentuk
kampung Donday, yang lain pindah kea rah barat dan membentuk kampong Yakonde
dan Sosiri. Bagian masyarakat lainnya pindah membentuk empat kampong do Do Yo.
Pulau dan kampung Yonokhom atau Kwadeware menjadi pusat penyebaran kebudayaan
di Sentani Barat. Di seluruh Sentani terdapat tiga pusat penyeberan yaitu, di
Sentani Timur pulau Asei dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan, di bagian
tengah pulau Ajau menjadi pusat persebaran kebudayaan, dan pulau Yonokhom
(Kwadeware) dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan di bagian barat
Sentani.
Danau Sentani terletak tepatnya di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura. Suku mayoritas di daratan dan pesisir Danau Sentani adalah suku Sentani, dengan marga atau klan yang berbeda di tiap kesatuan kampung.
Danau Sentani terletak tepatnya di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura. Suku mayoritas di daratan dan pesisir Danau Sentani adalah suku Sentani, dengan marga atau klan yang berbeda di tiap kesatuan kampung.
Kepercayaan Suku Sentani (Phuyakha-bhu)
kepercayaan masyarakat Sentani ditandai dengan kehidupan yang penuh
mistis. Dunia mistis ditandai dengan rasa takut terhadap segala yang
dipandangnya dari alam raya ini memiliki daya-daya yang seram, mengganggu dan
mematikan. Demi keselamatannya, mereka mencari semacam taktik guna menemukan
hubungan yang tepat antara dirinya sebagai manusia dengan daya-daya dari
kekuatan tersebut. Tindakan-tindakan yang serba religious magis dilakukan dalam
rangka menjaga kelestarian hubungan dengan daya-daya pada alam.
Perbuatan-perbuatan praktis misalnya, tata upacara dalam beraneka ragam
diutamakan. Dongeng-dongeng suci diantaranya tentang terjadinya danau, dunia,
gunung dan sebagainya, memainkan peranan pula. Dunia mistisnya bergeser ke alam
ontologis, yang berjalan berdampingan mempengaruhi tahapan kehidupan masyarakat
Sentani. Dalam dunia ontologis, manusia Sentani mulai membuat jarak
terhadap segala sesuatu yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupannya.
Dari pandangan mithologis dan dunia ontologi dapat ditarik kesimpulan
tentang inti pandangannya tentang alam semesta, bahwa tokoh-tokoh mithologi
merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan alam yang mengarahkan hidup
manusia untuk mengenal bahwa pemilikan kekuasaan rahasia atas hujan, api,
terang dan sebagainya diperuntukan bagi kebutuhan manusia.
Segala sesuatu menyangkut pengaturan alam semesta seperti matahari,
bulan, danau dan sebagainya merupakan hasil perbuatan para leluhur yang
dilakukan bersama dengan para tokoh mithologi.
Pandangan kosmologi terurai di atas mengandung dualisme antara
dunia nyata dan dunia tidak nyata (dunia maya) . sejalan dengan dualisme
pandangan itu terdapat antagonisme dalam kehidupan bersama manusia, terutama
antara saudara tua dan saudara muda. Perusuhan yang tibul akibat pertentangan
berakhir pada perebutan kekuasaan, penguatan kedudukan yang menang dan
pemisahan Yo-Wakhu. Antagonisme berpangkal mula dari persoalan kedudukan,
kekuasaan dan harta warisan, serta melatar belakangi sejarah
kelompok-kelompok masyarakat Sentani, yang berpengaruh terhadap penggabungan
dan kerja sama antar Yo. Para tokoh mithologi mengarahkan para leluhur agar
menggunakan kepemilikan rahasia dan hak kekuasaan atas hujan, api, air, hewan,
tanaman, dan sebagainya kepada keturunan mereka selaku pemegang kekuasaan serta
mewajibkan penggunaan hak dan kekuasaan demi kepentingan rakyat (akha-beakhe). Di
balik hak dan kekuasaan terdapat kewajiban pemegang kekuasaan adat untuk
melindungi rakyat yang oleh orang Sentani disebut “Holei-Narei” artinya
memelihara, mengayomi dan memberi makan. Kewajiban holei-narei dilakukan oleh
para penguasa adat kepada kesatuan masyarakat adat yang telah menetap pada
tiap-tiap Yo. Apa yang dimaksud dengan Yo? Yo dalam bahasa Indonesia disebut
kampung. Kampung adalah kesatuan hidup setempat (komunitas) yang terbentuk
karena adanya ikatan tempat tinggal dan sekalipun wilayah tempat tinggal itu
merupakan syarat mutlak, tetapi solidaritas Yo dicirikan pula oleh adanya
hubungan dan perasaan persaudaraan pada warganya, rasa persatuan dan kesatuan
dan kesamaan dalam satuan-satuan iyme (marga). Persatuan, kesatuam dan
kesamaan-kesamaan biasanya amat kuat, sehingga dapat menjadi sentiment
persaudaraan karena mengandung unsur-unsur rasa kepribadian kelompok. Kelompok
kecil serupa disebut Yo, dan para Ondofolo menjadi pemimpin adat tertinggi dan
Kose yang berada setingkat dibawahnya.
Pola Hidup (mata pencaharian, kehidupan sosial, pendidikan)
Masyarakat asli suku sentani bertempat tinggal di pingir-pinggir
danau maupun tepian pulau-pulau. Kampung ini mempunyai
keunikan/kekhasan yaitu merupakan suatu
daratan yang berada di tengah Danau Sentani, yang
hanya dihubungkan oleh transporatasi perahu atau
disebut kole-kole. Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka yakni
dengan mencari ikan, maupun kerang (kheka) dan bia (fele). Selain itu juga,
masyarakat suku sentani mengerjakan lading, menanam ubi-ubian seperti
singkong/ketela pohon (kasbi), betatas, keladi, pisang, ubi jalar, sayuran
(sayur lilin, sayur, patola, bayam merah, dll). Masyarakat suku Sentani
memiliki hutan sagu yang luas. Pohon sagu adalah pohon yang isinya setelah di
proses diambil sarinya seperti tepung. Sari dari sagu ini kemudian dijadikan
makanan, antara lain papeda, atau juga sagu bakar (forna, dan sinole). Sagu
yang dibuat papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan. Bagi orang lain,
mereka akan pikir-pikir dan mempertimbangkan baik-baik sebelum makan papeda, sebab
kelihatannya seperti lem. Jangan-jangan ketika makan tenggorakannya tidak
berfungsi.
Tanaman sagu dan ikan di wilayah Sentani tidak ditanami, tapi sudah
disediakan oleh Sang Pencipta buat suku ini. Ikan-ikan dan segala isi danau
tidak dikembangbiakan, tetapi tidak pernah habis walaupun setiap hari jutaan
ekor ditangkat.
Kehidupan Sosial budaya masyarakat yang sifatnya heterogen merupakan salah satu aspek yang potensial. Orang Sentani mengenal adat perkawinan ideal yang disebut miyea waimang yaitu tempat seorang laki-laki mengambil istri. Klen-klen tertentu berfungsi sebagai pemberi wanita.
Kehidupan Sosial budaya masyarakat yang sifatnya heterogen merupakan salah satu aspek yang potensial. Orang Sentani mengenal adat perkawinan ideal yang disebut miyea waimang yaitu tempat seorang laki-laki mengambil istri. Klen-klen tertentu berfungsi sebagai pemberi wanita.
Sistem pendidikan berpola asrama Khombo adalah rumah tempat belajar khusus kaum pria suku Sentani.
Setiap anak laki-laki yang berumur ± 10 tahun harus masuk dalam khombo. Lama
pendidikan di khombo ada dua versi, ada yang mengatakan pada usia 19-20 tahun
mereka akan keluar dari Khombo dan ada yang mereka selesai kira-kira pada usia
40 tahun. Khombo adalah nama rumah tempat dimana kaum pria atau pemuda sentani
tinggal untuk di didik. Khombo ini semacam rumah adat, mungkin juga “obhe” tapi
dalam bentuk tertutup. Khombo ini pernah sekitar tahun 1800-an dan generasi
terakhir ± tahun 1920-an. Yakni jaman tete Ambrosius Suebu yang lahir tahun
1901. Penggeblengan di khombo ini adalah semacam wajib bagi kaum laki-laki.
Tipe rumah khombo ini semacam sekolah, tapi berbentuk rumah adat.
Rumah atau konstruksi bangunannya besar dan memiliki banyak bilik untuk belajar
dan tempat tinggal. Rumah di bangun tanpa jendela dan hanya ada pintu saja.
Konon menurut cerita ada bekasnya di kampung Yobhe.
Isi Pengajaran Atau Kurikulum Di Khombo
Adapun isi pengajaran di khombo adalah: (1) Diajarkan bagaimana
cara berperang; (2) Diajarkan bagaimana cara bertani; (3) Diajarkan bagaimana
cara berburu; dan (4) Diajarkan tentang batas-batas tanah dan
kepemilikan/geografi, dll. Para laki-laki sentani yang menjadi siswanya di ajar
dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku dan usia masing-masing. Guru yang
menagajar adalah tua-tua masing-masing suku. Jadi setiap anak-didik dibagi
berdasarkan sukunya. Dalam belajar, mereka tidak digabung bersama-sama, kecuali
dalam pelajaran umum. Misalnya, belajar tentang batas-batas tanah, dusun, dll.
Misalnya ada Suku Nelem Aniyokhu, gurunya adalah tua-tua dari suku nelem
aniyokhu, kalau dari Suku Raklebei maka gurunya adalah tua-tua dari suku
rakhelebei, begitu juga buat suku-suku yang lainnya. Kemudian untuk
anak-anak kose-kepala suku diajar secara lebih khusus lagi, karena anak
kose-kepala suku adalah calon pemimpin menggantikan ayahnya kelak. Hal berlaku
untuk semua anak kose-kepala suku di Sentani. Info tambahan, katanya guru-guru
yang mengajar di khombo adalah orang-orang Ambon atau orang. Info ini belum ada
bukti kebenarannya.
Di khombo mereka belajr aturan-aturan adat dengan sangat baik.
Kadang jam empat pagi, mereka keluar dari khombo membuat jalan-jalan sebagai
pembatas tanah antara suku satu dengan suku lainnya. Sambil membuat jalan,
guru-guru mereka akan akan mennujukkan dan menjelaskan bahwa batas tanah dan
wilayah ini adalah milik suku ini dan itu. Tujuan adalah jika sudah selesai
dari pendidikan di khombo, maka mereka akan tahu persis tanah dan dusun ini
milik siapa, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan penuh keharmonisan. Khombo
sudah tidak ada lagi, tetapi hasil didikan di khombo dapat terlihat dari
kehidupan para tua-tua kampung sentani yang sekarang. Mereka dapat menjelaskan
dengan baik batas-batas tanah dan dusun lengkap dengan siapa pemiliknya.
Cerita-cerita tersebut ibarat sertifikat tanah. Karena jaman itu jaman bukan
jaman pemerintahan manapun atau seperti sekarang ini setelah Sentani juga masuk
dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mewajibkan tanah adat harus ada
bukti sertifikat. Penjelasan tentang batas tanah dusun dan pemiliknya dari
tua-tua adat suku sentani merupakan sertfikat secara adat. Di khombo, para anak
didik tidak belajar baca dan tulis. Mereka belajar mendengarkan, melihat dan
melakukan. Lebih di tekankan pada nilai sikap-afektif dan psikomotor-skill.
Disini daya ingat di pertajam dan dikembangkan. Mereka juga mengenakan pakaian
adat yang disebut “yo malo”. Yo mala ini adalah media untuk mengenal jati diri
dan asal suku mereka. Sama halnya dengan kita mengenal pakaian adat suku
yang ada di Indonesia atau lebih spesifik kita bisa mengenal orang dari
pakaiannya seperti tentara, suster-mantri, polisi, PNS Pemda, dokter, dll. Pendidikan
di khombo ini dimulai sejak Sentani ada. Belum ada data yang akurat tentang
kepatian tahun ada khombo secara historis. Inti yang diajarkan di khombo adalah
nilai etika yang tinggi. Misalnya dalam hal berkebun, tidak boleh mengambil
hasil kebuh seperti kelapa tua atau pisang yang rubuh dari jatuh di atas tanah
milik orang kalau itu bukan tanaman miliknya. Mereka juga mengajarkan hak asasi
manusia sehingga di jaga dengan baik. Tidak boleh mengganggu anak gadis orang
dengan sembarangan dan masih banyak hal lain lagi. Derajad atau kasta sangat
dihormati dan dihargai. Masyarakat Suku Sentani hidup dalam tatanan dan norma
adat yang sangat dijunjung tinggi. Jadi, siapa yang melanggarnya bisa kena
sangsi atau kutuk. Selama penggemblengan di khombo, kalau siswa tersebut
berbuat salah kadang dipukuli bahkan bisa sampai mati. Jika ada yang mati dalam
khombo hal itu tidak diberitahukan kepada orang tuanya. Namun dikuburkan secara
diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Hal-hal buruk lainnya yang sering dilakukan
oleh para siswa dikhombo yaitu: (1) pemimpin khombo menyuruh anak buahnya mengadakan
survei ke kebun-kebun masyarakat untuk melihat kebun mana yang bisa di panen.
Versi lainnya biasanya siswa yang belajar di khombo punya kebun sendiri. Ketika
mereka hendak keluar untuk membuat kebun, maka tidak ada satu masyarakatpun
yang keluar dari kampung ke tempat dimana mereka berkebun. Jadi, siswa di
khombo mereka menghidupi diri mereka sendiri melalui pendidikan dan skill yang
diajarkan; (2) saat tengah malam, para siswa yang ada di khombo ini berangkat
untuk panen di kebun yang sudah di surnei pada point satu; saya sendiri kurang
yakin dengan versi ini, jika dilihat dari isi pendidikan khombo yang sesungguh;
(3) siswa yang sudah mati dalam pendidikan di khombo tidak diberitahukan kepada
pihak keluarganya. Selama pendidikan di khombo siswa tidak pernah bertemu
dengan orang tua dan keluarganya. Bisa dibayangkan setelah 19-20 atau 40 tahun
baru bertemua dengan orang tua dan keluarga, bagaimana mereka bisa saling
mengenal. Biasa yang tahu hanya guru-gurunya. Biasanya selesainya seseorang
dari khombo ditandai dengan pemangkasan rambut.
Alat Transportasi
Melihat kondisi wilayah sentani yang berupah danau dan pulau-pulau
maka alat transpotasi laut yang digunakan adalah perahu. Perahu ada dua jenis.
Jenis pertama untuk kaum Bapa, biasa di sebut ifa. Sedang perahu untuk kaum Ibu
disebut khakai. perahu ini tidak memiliki alat bantu untuk menjaga
keseimbangan. Perahu untuk kaum bapa bentuknya agak kecil dan memanjang. Di
desain khusus untuk satu atau dua orang. Dan untuk mengendarai perahu ini
dibutuhkan orang yang terlatih. Terlatih dalam hal menjaga keseimbangan sambil
berdayung atau juga saat menghadapi ombak. Bagi kaum awam, akan merasa unik
melihatnya, dan mungkin akan heran dan bertanya-tanya bagaimana caranya orang
bisa menggunakan perahu ifaa ini? Perahu ifaa ini juga mengandung makna
filosofi bahwa kaum laki-laki suku sentani selalu mampu menjaga keseimbangan
dalam perjuangan hidup. Perahu kaum bapa ini biasa digunakan untuk ke tengah
danau guna mencari ikan dengan menyelam dan menyumpit ikan di dalam air, dan
juga aktivitas kaum bapa lainnya. Perahu ifaa ini bentuknya kecil, sehingga
muda sekali kemasukan air jika ada ombak. Untuk itu biasanya, sang Bapa yang
berdayung akan berhenti sejenak, dengan mengeluarkan satu kaki dan menaruhnya
di luar perahu, satu tangan memegang penggayung dan satu tangannya lagi
mengeluarkan air dari dalam perahu dengan alat yang disebut “kinggaei”. Perahu
bagi kaum perempuan atau khakai bentuknya agak besar. Juga tidak memiliki alat
bantu untuk menahan keseimbangan. Kenapa perahunya besar, karena dapat
digunakan untuk berbagai aktifitas, seperti mengangkut hasil laut, mengangkut
hasil kebun, atau juga bisa bisa digunakan keluarga untuk kunjungan atau
kegiatan lainnya. Selain itu, dalam berdayung menggunakan perahu ala suku
sentani, mereka juga terlatih untuk menhela, memecahkan ombak dengan
pengayungnya. Jadi, saat mendayung, jika ada ombak besar mereka gunakan
penggayung untuk menghela ombak, sambil menjaga keseimbangan agar tidak masuk
ke dalam perahu, dan agar perahunya tetap stabil atau supaya tidak tenggelam.
Sebenarnya secara budaya dan kebiasaan orang Sentani sudah sejak
lama mengenal perahu tradisonal mereka. Bagi masyarakat di Danau Sentani
terdapat dua tipe perahu antara lain khusus bagi kaum laki-laki yang bentuknya
lebih kecil dan sulit bagi orang awam. Sedangkan bagi kaum perempuan Sentani
agak sedikit lebih besar karena biasanya digunakan untuk mencari makanan dan
membuang jaring di dalam danau.
Perahu-perahu kecil melintasi air danau yang tenang adalah pemandangan
yang biasa dijumpai di sekitar Danau Sentani. Walau kini berperahu dan
mendayung seakan-akan mendapat saingan dari motor tempel. Penduduk menggunakan
perahu untuk mencari ikan, mengunjungi tetangga di pulau lain atau sekedar
menyebrang ke daratan. Perahu untuk perempuan disebut Hayi. Sedang perahu untuk
laki-laki dijuluki Iva. Perahu tradisional yang hanya bisa mengangkut dua
hingga tiga orang ini merupakan sarana transportasi vital bagi penduduk
setempat.
KESENIAN SUKU SENTANI
TARI Umumnya jenis tari yang biasa dipentaskan adalah berkelompok, karena gerakan tari selalu disertai dengan
nyanyi. Tifa, Kerambut, Akong Klika, Fou, Ai, Nindi-Nanda, Mele-Au, Ipoi-Monda,
Ebe-Kohu, Orohalu-Mehalu, Khamea-Kahlau, Khu-Mandai adalah atribut dan asesoris
tarian.
Ada catatan-catatan penting dalam tarian:
Menari adalah bagian dari suatu pemujaan dan penyerahan diri kepada
suatu kekuatan yang disembah atau suatu pemujaan kepada sang pemimpin yang
berprestasi, juga merupakan bagian dari ungkapan rasa berkabung;
Menampilkan derajad aksi pada kehidupan para penari;
Bagi kaum lelaki, tari merupakan promosi diri tentang kejantanan,
karena ketika seluruh fisiknya kelihatan polos kecuali bagian aurat seorang
laki-laki dalam tari tampil egoisme dan kebanggaan diri. Lantang dan lantun
suara dan nada, menampilkan kelengkapan keperkasaan seorang lelaki.
Bagi seorang putri, inilah dunia, kesempatan tampil penuh arti,
memboboti kentalnya cinta sang pemuda, dengan lengking nada yang halus dan
gerakkan yang lunglai. Kesempatan mencuri lirik di balik aksesoris yang mempercantik
diri, kepada sang sinyo adalah hal yang biasa. Perempuan yang sudah kawin,
lebih memilih menutupi wajah dengan aksesoris dan alat tutup dada yang lengkap,
sebagai tanda seorang istri. Tapi bagi gadis yang telah dipinang, ada isyarat
agar kebeliaan kecantikannya tak boleh menggoda, ia ada dalam ikatan dan janji
pertunangan. Sebab itu, gadis yang telah diranjang dalam dunia calon istri,
baginya ada mendung. Ia bisa dibatasi untuk tidak ikut menari dalam pandangan
masa. Tetapi hasrat kemudaannya, dan emosi kecantikannya mendorongnya meminta
fatwa pada mama untuk turun pentas. Apa permintaannya yang meyakinkan
mama untuk mengizinkannya turun pentas bersama teman sebayanya, ia memohon:
Melewu foijea mokhoisobo
Ana ralia yau nunde beayea erekhonde (3x)
Au wu moijea khoisobo
Ana waijau howalei beayea erehuklende
Hiasi wajahku dengan mele,
Di negeri orang aku menari dengan wajah tertutup
Bedaki aku dengan au
Dikampung orang aku berdansa dengan wajah terselubung
Ada tarian perorangan, biasa dilakukan oleh kaum perempuan, umumnya
pada masa berkabung, saat seorang ondofolo, khose, atau warga rumah yang baik,
mereka diratapi.
Ra Oleugwo yono omi menakhe melibele mokhoiboi miyae mewoyeaya
Wa Rukhuneaite yomolo kundang puma-puma khayete, ana khaye
Ra Rainyeate yamno meangge menakhe mekhaibele mokhoiboi meyae
mewoyeaya
Wa Heleainyaete Yammolo wamendang randamhirayekhe, ana hirayekheya
Ada sebuah
catatan, bagian tari ini mulai diambang punah, maka perlu dilakukan penggalian
kembali. Orang Sentani memiliki banyak ragam tari antara lain:
Nawalo, Fea bea, Kiklola, Obo Wailang, Khawaliang, Mande, Akhoi-koi
(Ahabala), Ibobea (Herenokholoi), Omandepe, Khara, Kharelu, Timbun, Siya,
Olkherando, Trusia, dll.
Pemuda
Sentani harus belajar bagian budaya ini, bila memiliki kemungkinan mendapat
pengembangan baru (modifikasi) sebagai bahan tontonan kepada masyarakat
penggemar wisata dan turis. Pengembangan dan peningkatan seni tari orang
Sentani perlu mendapat perhatian dalam kreatifitas para pemuda
Seni ukir dalam masyarakat asli Sentani, biasa sebagai medianya
adalah kayu. Kayu disini adalah termasuk alat-alat yang digunakan oleh orang
sentani. Alat-alat ini dapat sebagai media untuk seni ukir. Misalnya untuk
hiasan dibuatkan pada sehelai papan; pada penggayung pria dan wanita; Pada
tifa; Pada patung; pada perahu iva maupun hayi dan pada tiang-tiang
rumah. biasanya setiap ukiran mengandung gambar dan filosofi. Selain itu,
setiap ukiran ada pemiliknya. Dalam perkembangan seni ukir suku Sentani,
kita mengenai kerajinan ukir di kulit kayu. Salah satu seni ukir atau kerajinan
tangan dari Sentani yaitu kerajinan kulit kayu. Kerajinan kulit kayu ini nama aslinya
adalah khombow yang artinya ukiran kulit kayu, kerajinan tangan
ini memuat berbagai macam motif atau gambar ukiran khas suku Sentani dengan
pengertiannya masing-masing. Bukan sembarang ukiran yang diciptakan dari
tangan para pengrajin. Beberapa ukiran kulit kayu memiliki makna yang mendalam.
Sebut saja jenis ukiran Iuwga (Keagungan/kebesaran seorang Ondofolo Asei), dan
Kheykha (lambang kecantikan wanita Sentani).
Ukiran ini cukup mudah
ditemukan di beberapa destinasi wisata tersebar di Papua terutama di Jayapura.
Seperti di Pasar Kerajinan Tradisional Hamadi, Anda akan dengan mudah
mendapatkan ukiran kulit kayu ini. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung
ukuran besar/kecilnya kulit kayu tsb, besar lukisan dan jenis ukiran/
gambarnya. Seni ukir ini tidak semua pemuda Sentani bisa. Sebab
dibutuhkan cekatan melukis daun sagu, burung cenderawasih, ikan, kura-kura,
cicak, tokek, buaya. motif daun sagu, siku burung, kura-kura dan lambang
kemakmuran. Lukisan seni bercorak mitologi, lambang kekerabatan, marga,
nilai suci kematian, keseharian warga Sentani. Lambang kepercayaan tentang
semesta. Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan
budaya dunia dan mendapat pengakuan United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organization (UNESCO) seperti noken, mengingat lukisan itu hanya ada
dikalangan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura.
Seni patung bukan saja dimiliki oleh suku Asmat, tetapi orang
Sentani juga memiliki seni patung. di Kampung Baborongko dan Simporo di tahun
1978-1980-an saya masih melihat anak-anak muda memahat patung berbentuk
manusia. Dulu ada kegiatan pemuda yang dibawahi oleh organisasi “Karang Taruna”.
Nah, disini biasa dipamerkan berbagai seni hasil karya anak-anak Sentani.
Kegiatan ini pernah dilakukan di Pantai Yahim. Kami pernah melihat, berbagai
hasil karya seni dan patung ditampilkan di sana. Setiap kampong di danau
Sentani, memiliki cirri dan keunikan sendiri dalam gambar-gambar ukiran maupun
patungnya.
Dahulu, setiap laki-laki Sentani dewasa membuat perahu, membangun
rumah, dan menghias sendiri. Hingga semua laki-laki dewasa harus memiliki
kemampuan mengukir yang dipelajari di pusat pendidikan anak laki-laki dan di
rumah laki-laki yang dikelola masyarakat adat (Khombo/Obhe).
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Seminar
Komunitas Jayapura. Sentani Jayapura Papua.
Jurnal Permukiman ISSN : 1907 – 4352
Volume 6 No. 2 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar