AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

3 suku tambahan (suku sentani)

suku santani

 A. Asal-Usul Suku Sentani dengan Ras Melanesia serta Letak Geografis
 1. Migrasi menuju Sentani (Phuyakha Bhu)
Galis (1996) menyebutkan bahwa masyarakat Sentani berasal dari Timur lalu menyeberang ke Barat dan menemukan danau Sentani atau Phuyakha yang berarti air tenang. Penduduk Sentani tersebar di tiga wilayah yaitu:
  1. Di bagian barat terkonsentrasi di Yonokhom dan menyebar di beberapa kampung.
  2. Di bagian timur terkonsentrasi di pulau Asei dan menyebar di beberapa kampung
  3. Di bagian tengah terkonsentrasi di pulau Ajau dan menyebar di beberapa kampung.

Orang Sentani adalah kelompok masyarakat pejuang yang tangguh mempertahankan identitas etnisnya. Walau telah mengalami geseran budaya berkali-kali dari kelompok etnis lainnya. Sebelum menetap di tepian dan dan pulau-pulau di danau Sentani, mereka berasa dari Honong Yo Walkhau Yo, di seputar daerah Nyoa dan Moso di sebelah Papua New Guinea. Ketika terjadi mograsi besar-besaran secara bergelombang, terjadi gesekan-gesekan antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sehingga masuk ke danau Sentani secara terpisah-pisah dan tidak bersamaan waktu. Kelompok pertama adalah kelompok Asatou yang digabungi oleh sub-sub kelompok Bebuho, Asabo, Phouw, Khele, Phualo, bermigrasi dari Honong Yo melewati Wutung, menyeberang ke Rolowabu-wabu Yomo, bermukim disana, kemudian berangkat melewati Aukhone-Khone, Dobon Fere, dan membuat kampung di Horoli. Dari Horoli, pindah ke Yomokho-Waliau Yo melewati Mekhenewai. Dari Yomokho-Waliau Yo, mereka pindah dan menetap di Oheikoi-Yo (kampong Asei). Dari Oheikoi pindah ke Raid Au Kleu dan membuat kampung Kleubulouw. Rouboto pindah ke Waena. Kelompok Pui, Soro, Makanewai, Youwe ditinggal di sekitar Rolowabu-wabu Yomo (Kayu Batu). Pada migrasi kedua, berangkat dari Honong Yo, kelompok Razing Kleubeu mengambil arah selatan dengan menggunakan perahu melewati kampong Eha (Nafri), mendaki gunung  dan membuat pemukiman sementara du Umabo Besar dan Umabo Kecil. Dari Umabo turun ketepian Phuyakha bhu, menyeberang ke Yomokho-Waliau-Yo bergabung dengan kelompok Asatou, mengangkat ondofolo. Kemudian bersama-sama menyeberang ke kampung Oheikoi. Pindah ke Ebuheal ke Ayapo dan membentuk kampung Ayapo. Dari Ayapo, kelompok Mebli Iyme ke Yokha dan membuat kampung Hebeaibulu di lokasi bekas kampung Hebeaibulu yang telah punah. Kelompok ketiga adalah kelompok yang dipimpin oleh Yokhu Mokho, berangkat dari Honong Yo-Walakhau-Yo, melewati Wanimo, Wutung, lewat Mabouw, masuk teluk Yotefa bermukim di Endukha Yo, kemudian berangkat menyeberang naik gunung Rey Humungga, terus melewati Hokhom-Hisili, Ma Khele, Robhomfere, Atam dan masuk danau Sentani bagian tengah dan membentuk kampung Remfale yang disebut kampung Ifale sekarang. Kelompok yang lebih awal dari kelompok pertama, kedua dan ketiga adalah kelompok Heaiseai. Arus migrasi terjadi Walakhau Yo, melewati dataran Ebum Fau, terus berhenti di Yokha Wau dan mendirikan kampung Yokha Wau. Dari Yokha Wau Yo, di sponsori oleh Ibo, Khabey dan Monim menyeberang ke Ajau, kemudian  dari Ajau menjadi pusat persebaran. Dari Ajau pindah ke Khabeite Olow dan membentuk kampung Khabetlouw yang sekarang disebut Ifar Besar. Kemudian Monim pindah dan mendirikan kampung Putali, dan Ibo mendirikan kampong Atamali. Rokhoro pindah dari Ajau lebih ke arah barat daya dan mendirikan kampong Hemfolo. Kelompok migrasi berikutnya berjalan terus kearah barat danau Sentani, tiba di Yo Waliau Yo, di atas gunung kampung Donday. Dari Yo Waliau Yo turun ke tepian air dan menyeberang ke pulau Yonokhom dan membentuk kampong Yo Nokhom Yo. Dari Yonokhom pindah sebagian masyarakat kembali ke sekitar Yo Waliau Yo dan membentuk kampung Donday, yang lain pindah kea rah barat dan membentuk kampong Yakonde dan Sosiri. Bagian masyarakat lainnya pindah membentuk empat kampong do Do Yo. Pulau dan kampung Yonokhom atau Kwadeware menjadi pusat penyebaran kebudayaan di Sentani Barat. Di seluruh Sentani terdapat tiga pusat penyeberan yaitu, di Sentani Timur pulau Asei dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan, di bagian tengah pulau Ajau menjadi pusat persebaran kebudayaan, dan pulau Yonokhom (Kwadeware) dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan di bagian barat Sentani.
Danau Sentani terletak tepatnya di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura. Suku mayoritas di daratan dan pesisir Danau Sentani adalah suku Sentani, dengan marga atau klan yang berbeda di tiap kesatuan kampung. 

Kepercayaan Suku Sentani (Phuyakha-bhu)
kepercayaan masyarakat Sentani ditandai dengan kehidupan yang penuh mistis. Dunia mistis ditandai dengan rasa takut terhadap segala yang dipandangnya dari alam raya ini memiliki daya-daya yang seram, mengganggu dan mematikan. Demi keselamatannya, mereka mencari semacam taktik guna menemukan hubungan yang tepat antara dirinya sebagai manusia dengan daya-daya dari kekuatan tersebut. Tindakan-tindakan yang serba religious magis dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian hubungan dengan daya-daya pada alam. Perbuatan-perbuatan praktis misalnya, tata upacara dalam beraneka ragam diutamakan. Dongeng-dongeng suci diantaranya tentang terjadinya danau, dunia, gunung dan sebagainya, memainkan peranan pula. Dunia mistisnya bergeser ke alam ontologis, yang berjalan berdampingan mempengaruhi tahapan kehidupan masyarakat Sentani. Dalam dunia ontologis, manusia Sentani mulai membuat  jarak terhadap segala sesuatu  yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupannya. Dari pandangan mithologis dan dunia ontologi  dapat ditarik kesimpulan tentang inti pandangannya tentang alam semesta, bahwa tokoh-tokoh mithologi merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan alam yang mengarahkan hidup manusia untuk mengenal bahwa pemilikan kekuasaan rahasia atas hujan, api, terang dan sebagainya diperuntukan bagi kebutuhan manusia.
Segala sesuatu menyangkut pengaturan alam semesta seperti matahari, bulan, danau dan sebagainya merupakan hasil perbuatan para leluhur yang dilakukan bersama dengan para tokoh mithologi.
Pandangan kosmologi terurai di atas mengandung dualisme antara dunia nyata dan dunia tidak nyata (dunia maya) . sejalan dengan dualisme pandangan itu terdapat antagonisme dalam kehidupan bersama manusia, terutama antara saudara tua dan saudara muda. Perusuhan yang tibul akibat pertentangan berakhir pada perebutan kekuasaan, penguatan kedudukan yang menang dan pemisahan Yo-Wakhu. Antagonisme berpangkal mula dari persoalan kedudukan, kekuasaan dan harta warisan, serta melatar belakangi  sejarah kelompok-kelompok masyarakat Sentani, yang berpengaruh terhadap penggabungan dan kerja sama antar Yo. Para tokoh mithologi mengarahkan para leluhur agar menggunakan kepemilikan rahasia dan hak kekuasaan atas hujan, api, air, hewan, tanaman, dan sebagainya kepada keturunan mereka selaku pemegang kekuasaan serta mewajibkan penggunaan hak dan kekuasaan demi kepentingan rakyat (akha-beakhe). Di balik hak dan kekuasaan terdapat kewajiban pemegang kekuasaan adat untuk melindungi rakyat yang oleh orang Sentani disebut “Holei-Narei” artinya memelihara, mengayomi dan memberi makan. Kewajiban holei-narei dilakukan oleh para penguasa adat kepada kesatuan masyarakat adat yang telah menetap pada tiap-tiap Yo. Apa yang dimaksud dengan Yo? Yo dalam bahasa Indonesia disebut kampung. Kampung adalah kesatuan hidup setempat (komunitas) yang terbentuk karena adanya ikatan tempat tinggal dan sekalipun wilayah tempat tinggal itu merupakan syarat mutlak, tetapi solidaritas Yo dicirikan pula oleh adanya hubungan dan perasaan persaudaraan pada warganya, rasa persatuan dan kesatuan dan kesamaan dalam satuan-satuan iyme (marga). Persatuan, kesatuam dan kesamaan-kesamaan biasanya amat kuat, sehingga dapat menjadi sentiment persaudaraan karena mengandung unsur-unsur rasa kepribadian kelompok. Kelompok kecil serupa disebut Yo, dan para Ondofolo menjadi pemimpin adat tertinggi dan Kose yang berada setingkat dibawahnya.


Pola Hidup (mata pencaharian, kehidupan sosial, pendidikan)

Masyarakat asli suku sentani bertempat tinggal di pingir-pinggir danau maupun tepian pulau-pulau. Kampung ini mempunyai keunikan/kekhasan yaitu merupakan suatu daratan yang berada di tengah Danau Sentani, yang hanya dihubungkan oleh transporatasi perahu atau disebut kole-kole.  Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka yakni dengan mencari ikan, maupun kerang (kheka) dan bia (fele). Selain itu juga, masyarakat suku sentani mengerjakan lading, menanam ubi-ubian seperti singkong/ketela pohon (kasbi), betatas, keladi, pisang, ubi jalar, sayuran (sayur lilin, sayur, patola, bayam merah, dll). Masyarakat suku Sentani memiliki hutan sagu yang luas. Pohon sagu adalah pohon yang isinya setelah di proses diambil sarinya seperti tepung. Sari dari sagu ini kemudian dijadikan makanan, antara lain papeda, atau juga sagu bakar (forna, dan sinole). Sagu yang dibuat papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan. Bagi orang lain, mereka akan pikir-pikir dan mempertimbangkan baik-baik sebelum makan papeda, sebab kelihatannya seperti lem. Jangan-jangan ketika makan tenggorakannya tidak berfungsi.
Tanaman sagu dan ikan di wilayah Sentani tidak ditanami, tapi sudah disediakan oleh Sang Pencipta buat suku ini. Ikan-ikan dan segala isi danau tidak dikembangbiakan, tetapi tidak pernah habis walaupun setiap hari jutaan ekor ditangkat. 
Kehidupan Sosial budaya masyarakat yang sifatnya heterogen merupakan salah satu aspek yang potensial. Orang Sentani mengenal adat perkawinan ideal yang disebut miyea waimang  yaitu tempat seorang laki-laki mengambil istri. Klen-klen tertentu berfungsi sebagai pemberi wanita.
Sistem pendidikan berpola asrama Khombo adalah rumah tempat belajar khusus kaum pria suku Sentani. Setiap anak laki-laki yang berumur ± 10 tahun harus masuk dalam khombo. Lama pendidikan di khombo ada dua versi, ada yang mengatakan pada usia 19-20 tahun mereka akan keluar dari Khombo dan ada yang mereka selesai kira-kira pada usia 40 tahun. Khombo adalah nama rumah tempat dimana kaum pria atau pemuda sentani tinggal untuk di didik. Khombo ini semacam rumah adat, mungkin juga “obhe” tapi dalam bentuk tertutup. Khombo ini pernah sekitar tahun 1800-an dan generasi terakhir ± tahun 1920-an. Yakni jaman tete Ambrosius Suebu yang lahir tahun 1901. Penggeblengan di khombo ini adalah semacam wajib bagi kaum laki-laki.
Tipe rumah khombo ini semacam sekolah, tapi berbentuk rumah adat. Rumah atau konstruksi bangunannya besar dan memiliki banyak bilik untuk belajar dan tempat tinggal. Rumah di bangun tanpa jendela dan hanya ada pintu saja. Konon menurut cerita ada bekasnya di kampung Yobhe.
Isi Pengajaran Atau Kurikulum Di Khombo
Adapun isi pengajaran di khombo adalah: (1) Diajarkan bagaimana cara berperang; (2) Diajarkan bagaimana cara bertani; (3) Diajarkan bagaimana cara berburu; dan (4) Diajarkan tentang batas-batas tanah dan kepemilikan/geografi, dll. Para laki-laki sentani yang menjadi siswanya di ajar dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku dan usia masing-masing. Guru yang menagajar adalah tua-tua masing-masing suku. Jadi setiap anak-didik dibagi berdasarkan sukunya. Dalam belajar, mereka tidak digabung bersama-sama, kecuali dalam pelajaran umum. Misalnya, belajar tentang batas-batas tanah, dusun, dll. Misalnya ada Suku Nelem Aniyokhu, gurunya adalah tua-tua dari suku nelem aniyokhu, kalau dari Suku Raklebei maka gurunya adalah tua-tua dari suku rakhelebei, begitu juga buat suku-suku yang lainnya.  Kemudian untuk anak-anak kose-kepala suku diajar secara lebih khusus lagi, karena anak kose-kepala suku adalah calon pemimpin menggantikan ayahnya kelak. Hal berlaku untuk semua anak kose-kepala suku di Sentani. Info tambahan, katanya guru-guru yang mengajar di khombo adalah orang-orang Ambon atau orang. Info ini belum ada bukti kebenarannya.
Di khombo mereka belajr aturan-aturan adat dengan sangat baik. Kadang jam empat pagi, mereka keluar dari khombo membuat jalan-jalan sebagai pembatas tanah antara suku satu dengan suku lainnya. Sambil membuat jalan, guru-guru mereka akan akan mennujukkan dan menjelaskan bahwa batas tanah dan wilayah ini adalah milik suku ini dan itu. Tujuan adalah jika sudah selesai dari pendidikan di khombo, maka mereka akan tahu persis tanah dan dusun ini milik siapa, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan penuh keharmonisan. Khombo sudah tidak ada lagi, tetapi hasil didikan di khombo dapat terlihat dari kehidupan para tua-tua kampung sentani yang sekarang. Mereka dapat menjelaskan dengan baik batas-batas tanah dan dusun lengkap dengan siapa pemiliknya. Cerita-cerita tersebut ibarat sertifikat tanah. Karena jaman itu jaman bukan jaman pemerintahan manapun atau seperti sekarang ini setelah Sentani juga masuk dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mewajibkan tanah adat harus ada bukti sertifikat. Penjelasan tentang batas tanah dusun dan pemiliknya dari tua-tua adat suku sentani merupakan sertfikat secara adat. Di khombo, para anak didik tidak belajar baca dan tulis. Mereka belajar mendengarkan, melihat dan melakukan. Lebih di tekankan pada nilai sikap-afektif dan psikomotor-skill. Disini daya ingat di pertajam dan dikembangkan. Mereka juga mengenakan pakaian adat yang disebut “yo malo”. Yo mala ini adalah media untuk mengenal jati diri dan asal suku mereka. Sama halnya dengan kita mengenal pakaian adat  suku yang ada di Indonesia atau lebih spesifik kita bisa mengenal orang dari pakaiannya seperti tentara, suster-mantri, polisi, PNS Pemda, dokter, dll. Pendidikan di khombo ini dimulai sejak Sentani ada. Belum ada data yang akurat tentang kepatian tahun ada khombo secara historis. Inti yang diajarkan di khombo adalah nilai etika yang tinggi. Misalnya dalam hal berkebun, tidak boleh mengambil hasil kebuh seperti kelapa tua atau pisang yang rubuh dari jatuh di atas tanah milik orang kalau itu bukan tanaman miliknya. Mereka juga mengajarkan hak asasi manusia sehingga di jaga dengan baik. Tidak boleh mengganggu anak gadis orang dengan sembarangan dan masih banyak hal lain lagi. Derajad atau kasta sangat dihormati dan dihargai. Masyarakat Suku Sentani hidup dalam tatanan dan norma adat yang sangat dijunjung tinggi. Jadi, siapa yang melanggarnya bisa kena sangsi atau kutuk. Selama penggemblengan di khombo, kalau siswa tersebut berbuat salah kadang dipukuli bahkan bisa sampai mati. Jika ada yang mati dalam khombo hal itu tidak diberitahukan kepada orang tuanya. Namun dikuburkan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Hal-hal buruk lainnya yang sering dilakukan oleh para siswa dikhombo yaitu: (1) pemimpin khombo menyuruh anak buahnya mengadakan survei ke kebun-kebun masyarakat untuk melihat kebun mana yang bisa di panen. Versi lainnya biasanya siswa yang belajar di khombo punya kebun sendiri. Ketika mereka hendak keluar untuk membuat kebun, maka tidak ada satu masyarakatpun yang keluar dari kampung ke tempat dimana mereka berkebun. Jadi, siswa di khombo mereka menghidupi diri mereka sendiri melalui pendidikan dan skill yang diajarkan; (2) saat tengah malam, para siswa yang ada di khombo ini berangkat untuk panen di kebun yang sudah di surnei pada point satu; saya sendiri kurang yakin dengan versi ini, jika dilihat dari isi pendidikan khombo yang sesungguh; (3) siswa yang sudah mati dalam pendidikan di khombo tidak diberitahukan kepada pihak keluarganya. Selama pendidikan di khombo siswa tidak pernah bertemu dengan orang tua dan keluarganya. Bisa dibayangkan setelah 19-20 atau 40 tahun baru bertemua dengan orang tua dan keluarga, bagaimana mereka bisa saling mengenal. Biasa yang tahu hanya guru-gurunya. Biasanya selesainya seseorang dari khombo ditandai dengan pemangkasan rambut.

Alat Transportasi

Melihat kondisi wilayah sentani yang berupah danau dan pulau-pulau maka alat transpotasi laut yang digunakan adalah perahu. Perahu ada dua jenis. Jenis pertama untuk kaum Bapa, biasa di sebut ifa. Sedang perahu untuk kaum Ibu disebut khakai. perahu ini tidak memiliki alat bantu untuk menjaga keseimbangan. Perahu untuk kaum bapa bentuknya agak kecil dan memanjang. Di desain khusus untuk satu atau dua orang. Dan untuk mengendarai perahu ini dibutuhkan orang yang terlatih. Terlatih dalam hal menjaga keseimbangan sambil berdayung atau juga saat menghadapi ombak. Bagi kaum awam, akan merasa unik melihatnya, dan mungkin akan heran dan bertanya-tanya bagaimana caranya orang bisa menggunakan perahu ifaa ini? Perahu ifaa ini juga mengandung makna filosofi bahwa kaum laki-laki suku sentani selalu mampu menjaga keseimbangan dalam perjuangan hidup. Perahu kaum bapa ini biasa digunakan untuk ke tengah danau guna mencari ikan dengan menyelam dan menyumpit ikan di dalam air, dan juga aktivitas kaum bapa lainnya. Perahu ifaa ini bentuknya kecil, sehingga muda sekali kemasukan air jika ada ombak. Untuk itu biasanya, sang Bapa yang berdayung akan berhenti sejenak, dengan mengeluarkan satu kaki dan menaruhnya di luar perahu, satu tangan memegang penggayung dan satu tangannya lagi mengeluarkan air dari dalam perahu dengan alat yang disebut “kinggaei”. Perahu bagi kaum perempuan atau khakai bentuknya agak besar. Juga tidak memiliki alat bantu untuk menahan keseimbangan. Kenapa perahunya besar, karena dapat digunakan untuk berbagai aktifitas, seperti mengangkut hasil laut, mengangkut hasil kebun, atau juga bisa bisa digunakan keluarga untuk kunjungan atau kegiatan lainnya. Selain itu, dalam berdayung menggunakan perahu ala suku sentani, mereka juga terlatih untuk menhela, memecahkan ombak dengan pengayungnya. Jadi, saat mendayung, jika ada ombak besar mereka gunakan penggayung untuk menghela ombak, sambil menjaga keseimbangan agar tidak masuk ke dalam perahu, dan agar perahunya tetap stabil atau supaya tidak tenggelam.
Sebenarnya secara budaya dan kebiasaan orang Sentani sudah sejak lama mengenal  perahu tradisonal mereka. Bagi masyarakat di Danau Sentani terdapat dua tipe perahu antara lain khusus bagi kaum laki-laki yang bentuknya lebih kecil dan sulit bagi orang awam. Sedangkan bagi kaum perempuan Sentani agak sedikit lebih besar karena biasanya digunakan untuk mencari makanan dan membuang jaring di dalam danau.
Perahu-perahu kecil melintasi air danau yang tenang adalah pemandangan yang biasa dijumpai di sekitar Danau Sentani. Walau kini berperahu dan mendayung seakan-akan mendapat saingan dari motor tempel. Penduduk menggunakan perahu untuk mencari ikan, mengunjungi tetangga di pulau lain atau sekedar menyebrang ke daratan. Perahu untuk perempuan disebut Hayi. Sedang perahu untuk laki-laki dijuluki Iva. Perahu tradisional yang hanya bisa mengangkut dua hingga tiga orang ini merupakan sarana transportasi vital bagi penduduk setempat.

KESENIAN SUKU SENTANI

TARI Umumnya jenis tari yang biasa dipentaskan adalah berkelompok, karena gerakan tari selalu disertai dengan nyanyi. Tifa, Kerambut, Akong Klika, Fou, Ai, Nindi-Nanda, Mele-Au, Ipoi-Monda, Ebe-Kohu, Orohalu-Mehalu, Khamea-Kahlau, Khu-Mandai adalah atribut dan asesoris tarian. 
Ada catatan-catatan penting dalam tarian:
Menari adalah bagian dari suatu pemujaan dan penyerahan diri kepada suatu kekuatan yang disembah atau suatu pemujaan kepada sang pemimpin yang berprestasi, juga merupakan bagian dari ungkapan rasa berkabung;
Menampilkan derajad aksi pada kehidupan para penari;
Bagi kaum lelaki, tari merupakan promosi diri tentang kejantanan, karena ketika seluruh fisiknya kelihatan polos kecuali bagian aurat seorang laki-laki dalam tari tampil egoisme dan kebanggaan diri. Lantang dan lantun suara dan nada, menampilkan kelengkapan keperkasaan seorang lelaki.
Bagi seorang putri, inilah dunia, kesempatan tampil penuh arti, memboboti kentalnya cinta sang pemuda, dengan lengking nada yang halus dan gerakkan yang lunglai. Kesempatan mencuri lirik di balik aksesoris yang mempercantik diri, kepada sang sinyo adalah hal yang biasa. Perempuan yang sudah kawin, lebih memilih menutupi wajah dengan aksesoris dan alat tutup dada yang lengkap, sebagai tanda seorang istri. Tapi bagi gadis yang telah dipinang, ada isyarat agar kebeliaan kecantikannya tak boleh menggoda, ia ada dalam ikatan dan janji pertunangan. Sebab itu, gadis yang telah diranjang dalam dunia calon istri, baginya ada mendung. Ia bisa dibatasi untuk tidak ikut menari dalam pandangan masa. Tetapi hasrat kemudaannya, dan emosi kecantikannya mendorongnya meminta fatwa pada mama untuk  turun pentas. Apa permintaannya yang meyakinkan mama untuk mengizinkannya turun pentas bersama teman sebayanya, ia memohon:
Melewu foijea mokhoisobo
Ana ralia yau nunde beayea erekhonde (3x)
Au wu moijea khoisobo
Ana waijau howalei beayea erehuklende
Hiasi wajahku dengan mele,
Di negeri orang aku menari dengan wajah tertutup
Bedaki aku dengan au
Dikampung orang aku berdansa dengan wajah terselubung
Ada tarian perorangan, biasa dilakukan oleh kaum perempuan, umumnya pada masa berkabung, saat seorang ondofolo, khose, atau warga rumah yang baik, mereka diratapi.
Ra Oleugwo yono omi menakhe melibele mokhoiboi miyae mewoyeaya
Wa Rukhuneaite yomolo kundang puma-puma khayete, ana khaye
Ra Rainyeate yamno meangge menakhe mekhaibele mokhoiboi meyae mewoyeaya
Wa Heleainyaete Yammolo wamendang randamhirayekhe, ana hirayekheya
            Ada sebuah catatan, bagian tari ini mulai diambang punah, maka perlu dilakukan penggalian kembali. Orang Sentani memiliki banyak ragam tari antara lain:
Nawalo, Fea bea, Kiklola, Obo Wailang, Khawaliang, Mande, Akhoi-koi (Ahabala), Ibobea (Herenokholoi), Omandepe, Khara, Kharelu, Timbun, Siya, Olkherando, Trusia, dll.
            Pemuda Sentani harus belajar bagian budaya ini, bila memiliki kemungkinan mendapat pengembangan baru (modifikasi) sebagai bahan tontonan kepada masyarakat penggemar wisata dan turis. Pengembangan dan peningkatan seni tari orang Sentani perlu mendapat perhatian dalam kreatifitas para pemuda

Seni ukir dalam masyarakat asli Sentani, biasa sebagai medianya adalah kayu. Kayu disini adalah termasuk alat-alat yang digunakan oleh orang sentani. Alat-alat ini dapat sebagai media untuk seni ukir. Misalnya untuk hiasan dibuatkan pada sehelai papan; pada penggayung pria dan wanita; Pada tifa; Pada patung; pada perahu iva  maupun hayi dan pada tiang-tiang rumah. biasanya setiap ukiran mengandung gambar dan filosofi. Selain itu, setiap ukiran ada pemiliknya. Dalam perkembangan seni ukir suku Sentani,  kita mengenai kerajinan ukir di kulit kayu. Salah satu seni ukir atau kerajinan tangan dari Sentani yaitu kerajinan kulit kayu. Kerajinan kulit kayu ini nama aslinya adalah khombow yang artinya ukiran kulit kayu, kerajinan tangan ini memuat berbagai macam motif atau gambar ukiran khas suku Sentani dengan pengertiannya masing-masing.  Bukan sembarang ukiran yang diciptakan dari tangan para pengrajin. Beberapa ukiran kulit kayu memiliki makna yang mendalam. Sebut saja jenis ukiran Iuwga (Keagungan/kebesaran seorang Ondofolo Asei), dan Kheykha (lambang kecantikan wanita Sentani).
 Ukiran ini cukup mudah ditemukan di beberapa destinasi wisata tersebar di Papua terutama di Jayapura. Seperti di Pasar Kerajinan Tradisional Hamadi, Anda akan dengan mudah mendapatkan ukiran kulit kayu ini. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung ukuran besar/kecilnya kulit kayu tsb, besar lukisan dan jenis ukiran/ gambarnya.  Seni ukir ini tidak semua pemuda Sentani bisa. Sebab dibutuhkan cekatan melukis daun sagu, burung cenderawasih, ikan, kura-kura, cicak, tokek, buaya. motif daun sagu, siku burung, kura-kura dan lambang  kemakmuran. Lukisan seni bercorak mitologi, lambang kekerabatan, marga, nilai suci kematian, keseharian warga Sentani. Lambang kepercayaan tentang semesta. Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan budaya dunia dan mendapat pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) seperti noken, mengingat lukisan itu hanya ada dikalangan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura.
Seni patung bukan saja dimiliki oleh suku Asmat, tetapi orang Sentani juga memiliki seni patung. di Kampung Baborongko dan Simporo di tahun 1978-1980-an saya masih melihat anak-anak muda memahat patung berbentuk manusia. Dulu ada kegiatan pemuda yang dibawahi oleh organisasi “Karang Taruna”. Nah, disini biasa dipamerkan berbagai seni hasil karya anak-anak Sentani. Kegiatan ini pernah dilakukan di Pantai Yahim. Kami pernah melihat, berbagai hasil karya seni dan patung ditampilkan di sana. Setiap kampong di danau Sentani, memiliki cirri dan keunikan sendiri dalam gambar-gambar ukiran maupun patungnya.
Dahulu, setiap laki-laki Sentani dewasa membuat perahu, membangun rumah, dan menghias sendiri. Hingga semua laki-laki dewasa harus memiliki kemampuan mengukir yang dipelajari di pusat pendidikan anak laki-laki dan di rumah laki-laki yang dikelola masyarakat adat (Khombo/Obhe).


DAFTAR PUSTAKA


Jurnal Seminar Komunitas Jayapura. Sentani Jayapura Papua.
Jurnal Permukiman ISSN : 1907 – 4352 Volume 6 No. 2 Agustus 2011 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...