AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani
KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNGFAU KABUPATEN JAYAPURA
IMMA NARPA, CHERYANTI
URI: http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/22281
Date: 2016-12-16
Abstract:
CHERYANTI IMMA NARPA (B111 12 146) “Kedudukan Anak Perempuan Sebagai Ahli Waris Menurut Hukum Waris Masyarakat Patrilineal Dalam Suku Sentani Kabupaten Jayapura” dibimbing oleh Ibu Sri Susyanti Nur selaku Pembimbing I dan Bapak H. M. Ramli Rahim selaku Pembimbing II. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pembagian harta warisan pada masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura dan untuk mengetahui kedudukan dan berapa bagian anak perempuan pada masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Jayapura, tepatnya di Kampung Homfolo Distrik Ebungfauw, sebagai tempat bermukimnya penduduk asli Masyarakat Sentani, dengan teknik pengumpulan data dengan dua cara, yakni metode penilitian kepustakaan dan lapangan yang terdiri dari wawancara dan observasi di lapangan. Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan dengan menggunakan teknik wawancara, serta data sekunder yang berupa studi kepustakaan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara deskriptif. Hasil Penelitian yang diperoleh adalah Masyarakat Sentani pada Kampung Homfolo menganut sistem Patrilineal, yaitu sistem keturunan yang ditarik menurut garis bapak. Sistem keturunan ini sangat berpengaruh pada sistem pembagian warisan nantinya. Pelaksanaan pembagian warisan pada masyarakat Sentani pada kampung Homfolo, menggunakan sistem adat istiadat secara turun temurun yang dilaksanakan oleh masyarakat adat setempat. Dalam pewarisan harta warisan jatuh seluruhnya ke tangan pihak laki-laki. Anak perempuan tidak mendapatkan harta warisan karena apabila perempuan tersebut menikah maka ia akan keluar dari keluarganya dan masuk ke keluarga barunya mengikuti marga suaminya.
Description:
2016
Show full item record

Perancangan Film Dokumenter Potret Kehidupan Masyarakat Sentani Berdasarkan Kearifan Lokal
Tumimomor, Anthony Y. M.
Pranata, Yohanes Angga Widhya
kearifan lokal;sinematografi;film dokumenter;Kabupaten Jayapura;Sentani
2016
Program Studi Desain Komunikasi Visual FTI-UKSW
Abstract
Kearifan lokal adalah kebenaran yang telah mentradisi dalam suatu daerah, terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat dan menjadi identitas masyarakat. Di Sentani yang merupakan Ibukota Kabupaten Jayapura memiliki keunikan dalam kearifan lokal khususnya dalam bidang seni yang sudah menjadi tradisi dari zaman nenek moyang, seperti contoh memiliki kerajinan mengukir di atas batu, kayu, dan kulit kayu yang berbeda dengan daerah lainnya. Namun pada saat ini hanya beberapa orang - orang tua yang masih melakukan tradisi peninggalan nenek moyang tersebut. Seiring perkembangan zaman, masyarakat Sentani khususnya generasi muda saat ini tidak banyak yang mengetahui tentang kearifan lokal mengenai daerah tempat mereka berasal. Jika terus dibiarkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat sentani perlahan akan hilang. Sehinggaberdasarkan dengan permasalahan tersebut, diperlukan perancangan media informasi berupa perancangan film dokumenter potret kehidupan masyarakat Sentani berdasarkan kearifan lokaldengan menggunakan metode kualitatif dan strategi linier, dengan tujuan sebagai media informasi yang dapat memperkenalkan mengenai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Sentani.
WALIHEKI RALIBHU SEBUAH PERSEKUTUAN HUKUM TERITORIAL PADA MASYARAKAT HUKUM ADAT SENTANI TIMUR
SARA IDA MAGDALENA AWI
Universitas Cenderawasih
Abstract

Waliheki Ralibhu merupakan suatu persekutuan hukum teritorial, yang sampai saat ini eksistensinya masih terus dipertahankan, diakui serta ditaati oleh masyarakat hukum adat di wilayah Sentani Timur. Kajian penelitian ini membahas secara khusus mengenai bagaimana sistem pemerintahan adat pada persekutuan hukum adat Waliheki Ralibhu tersebut. Dengan metode penelitian hukum empiris yang bersumberkan pada data primer dan data sekunder.
Pembahasan sampai simpulan dalam tesis ini, dapat dideskripsikan sebagai berikut : (1).Eksistensi waliheki ralibhu sebagai persekutuan hukum teritorial diakui secara yuridis dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan masih ditaati oleh masyarakat Sentani Timur; (2).Dalam pelaksanaan fungsinya sebagai persekutuan teritorial waliheki ralibhu selalu memperhatikan tatanan-tanan serta nilai dan norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Kata kunci :Persekutuan Hukum Teritorial, Waliheki Ralibhu, Sentani Timur
References

Bambang Sunggono, 2003, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta.
Deda Andreas Jefri, Sejarah Gereja Ebenhaeser Yoka, Pusat Penelitian Bahasa dan Budaya (PUSBADAYA) Papua, Universitas Negeri Papua, 2013
Ni Ketut Supasti Dharmawan, 2005, “Metode penelitian Hukum Empiris”, makalah dalam Lokakarya Metode Penelitian Hukum Empiris yang diselenggarakan oleh Program Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Udayana, 29 Juli 2005.
Johszua Robert Mansoben, Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya, LIPI – RUL Series, Jakarta 1995.
Muhammad Bushar, Pokok-Pokok Hukum Adat, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 2006
Soekanto, Soerjono. 2002. Hukum Adat Indonesia.PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.2004.Pokok-pokok Sosiologi Hukum.PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta
Simarmata Rikardo, Pengakuan Hukum Terhadap Masyarakat Adat di Indonesia, UNPD, Jakarta, 2006
Ter Haar Bzn. 1960.Beginselen en Stelsel Van het Adatrecht.J.B.Wolters. Groningen. Jakarta.
Lexy J. Maleong, 1990, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Wignjodipuro, Surojo. 1987. Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

STRATEGI SUBSISTENSI DAN PEMILIHAN LOKASI HUNIAN PRASEJARAH DI SITUS YOMOKHO, SENTANI
Hari Suroto

ABSTRACT
Penelitian di Kawasan Danau Sentani dilakukan di Situs Yomokho untuk mengetahui strategi pemilihan tempat tinggal manusia pendukung budaya Situs Yomokho, dan pola subsistensi. Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan survei permukaan tanah dan ekskavasi. Hasil ekskavasi di Situs Yomokho diperoleh temuan berupa fragmen gerabah polos maupun hias. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa fragmen gerabah hanya ditemukan di lapisan tanah bagian atas yang berwarna hitam. Kondisi Bukit Yomokho berupa lereng bukit yang miring. Diasumsikan manusia pendukung Situs Yomokho tinggal di rumah panggung, tidak semua bagian bukit dipilih untuk mendirikan tempat tinggal, tetapi disesuaikan dengan kondisi lereng bukit dan kondisi tanah. Pemilihan Situs Yomokho sebagai hunian masa lalu didasarkan pada lokasinya yang dekat dengan danau dan didukung oleh keberadaan hutan sagu.

KEYWORDS
Situs Yomokho, Hunian, Subsistensi.
FULL TEXT:
PDF
REFERENCES
Binford, Lewi s R. 1972. Archaeological Perspective. New York: Seminar Press.
Darmansyah, 2006. Parim di Papua. Dalam Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeologi. Jakarta: Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata.
Dwiastoro, Anton. 2009. Doors to the Unknown. The Story of Sentani in the Regency of Papua. Jakarta: TSA Komunika.
Said, C.A.H. dan Utomo, Bambang Budi., 2006. Permukiman dalam Perspektif Arkeologi. Dalam Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeolog. Jakarta: Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata.
Subroto, P. H. 1985. Studi tentang Pola Pemukiman Arkeologi Kemungkinan-kemungkinan Penerapannya di Indonesia. PIA III. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Suroto, Hari.2010. Prasejarah Papua. Denpasar: Udaya University Press.
Suroto, Hari, Erlin N. I. Djami, M. Irfan Mahmud. 2011. Ekskavasi dan Survei Arkeologi Kawasan danau Sentani. Laporan Penelitian Balai Arkeologi Jayapura.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. 2008. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Puslitbangarkenas.

Tim Penelitian. 2010. Penelitian Arkeologi di Kawasan Danau Sentani. Laporan Penelitian. Jayapura: Balai Arkeologi Jayapura.
Wiradnyana, Ketut. 2011. Prasejarah Sumatera Bagian Uta a: Kontribusinya pada Kebudayaan Kini. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

                                    Kesimpulan
Filsuf Yunani kuno, Aristoteles menyebutkan adat-istiadat sebagai “kodrat kedua” dari manusia., sedangkan ahli pikir Inggris William James mengibaratkan adat-istiadat sebagai orda masyarakat yang menggerakan dan memberdayakan masyarakat (Ans, 2009: 98). Mortimer J. Adler berpendapat bahwa adalah tidak mudah mengubah suatu kebiasaan lama dan menggantikannya dengan yang baru.
Budaya merupakan identitas diri suatu kelompok masyarakat. Di dalam konteks berbangsa dan bernegara, peranan kebudayaan-kebudayaan lokal amat penting. Kekayaan dan kekukuhan kebudayaan nasional Indonesia dibangun dan dibentuk dari kekayaan dan kekukuhan loKal dari seluruh nusantara, termasuk kebudayaan Papua. Kebudayaan Papua adalah kebudayaan yang tdk bisa terpisahkan dari kebudayaan nasional Indonesia, tidak berkembang bahkan terancam punah (Jacobus, 2006: 110-111).
Hampir semua orang Papua Barat memahami adatnya masing-masing. Adat menjadi peraturan hidup, tata cara pergaulan, yang akhirnya menjadi pedoman hidup mereka (Yakobus, 2006: 237-238). Ada yang masih menilai Papua sebagai manusia saman batu hingga saat ini. Kebudayaan baru masuk membuat orang Papua lupa jati diri, dan mulai lupa adat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...