Agama Agama Lokal – Observasi Budaya Betawi
Laporan akhir penelitian oleh kelompok 8 :
-Guruh Purnama 11150321000008
-Nimas Niswatun Nafisah 11150321000024
-M. Furqan Haqqy 11150321000026
JURUSAN STUDI AGAMA-AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
adalah makhluk yang diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk yang
berbudaya, hal ini dapat dilihat dari perkembangan manusia yang ditandai
dengan adanya peradaban-peradaban dan juga budaya yang telah terbentuk.Manusia mendiami wilayah yang
berbeda, berada di lingkungan yang berbeda juga. Hal ini membuat kebiasaan,
adat istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia suatu wilayah berbeda
dengan yang lainnya. Namun secara garis besar terdapat tiga pembagian wilayah,
yaitu : barat, timur tengah, dan timur.
Kita
di indonesia termasuk ke dalam bangsa timur, yang dikenal sebagai bangsa yang
berkepribadian baik. Bangsa timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan
bersahabat. Orang – orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian
bangsa timur yang tidak individualistis dan saling tolong menolong satu sama
lain.
Menurut
Selo Soemardjan menjelaskan bahwa yang dimaksud masyarakat adalah manusia yang
hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian tak ada masyarakat
yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat
sebagai wadah pendahulunya. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama untuk melakukan kegiatan bagi
kepentingan bersama atau sebagian besar hidupnya berada dalam kehidupan budaya.
Masyarakat
atau Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antar etnis dan bangsa di masa
lalu secara biologis. Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang
menghuni di Jakarta dan Bahasa Melayu Kreol adalah bahasa yang digunakannya,
dan juga kebudayaan melayunya adalah kebudayaanya. Kata Betawi sebenarnya
berasal dari kata “Batavia”, yaitu nama kuno Jakarta diberikan oleh Belanda.
Jadi, sangatlah menarik bila diteliti secara sruktur, poses dan pertumbuhan
social Suku Betawi mulai dari sejarahnya, bahasa, kepercayaan, profesi,
perilaku, wilayah, seni dan budayanya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sejarah dan asal-usul suku betawi ?
2. Bagaimana
komunitas penduduk betawi ?
3. Kepercayaan apa
sajakah yang dianut oleh suku betawi ?
4. Bagaimana sistem
mata pencaharian masyarakat betawi?
5. Apa saja seni
dan kebudayaan betawi ?
6. Bahasa apakah
yang diapakai oleh suku betawi ?
C. Tujuan penulisan penelitian
Tujuan penulisan penelitian makalah mengenai suku
betawi yaitu untuk mengetahui sejarah suku betawi dan penulis juga ingin
mengetahui dan memahami budaya betawi dari segala aspeknya. Adapun manfaat dari
penulisan penelitian makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
tentang proses dan pertumbuhan social suku betawi.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah
Diawali oleh orang sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke
dalam kerajaan tarumanegara serta kemudian pakuan pajajaran. Selain orang sunda, terdapat pula pedagang dan
pelaut asing dari pesisir utara jawa, dari berbagai pulau indonesia timur, dari malaka di semenanjung malaya, bahkan dari tiongkok serta gujarat di india.
Selain itu, perjanjian antara surawisesa (raja
kerajaan sunda) dengan bangsa portugis pada tahun 1512 yang membolehkan
portugis untuk membangun suatu komunitas di sunda kalapa mengakibatkan
perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa portugis yang
menurunkan darah campuran portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
Setelah VOC menjadikan batavia sebagai pusat kegiatan
niaganya, belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian
dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak
dari penguasa bali, karena saat itu di bali masih berlangsung praktik
perbudakan. Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa bali
dalam bahasa betawi kini. Kemajuan perdagangan batavia menarik berbagai suku
bangsa dari penjuru nusantara hingga tiongkok, arab dan india untuk bekerja di
kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana
pengantin betawi yang banyak dipengaruhi unsur arab dan tiongkok. Berbagai nama
tempat di jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai
suku bangsa ke batavia; kampung melayu, kampung bali, kampung ambon, kampung
jawa, kampung makassar dan kampung bugis. Rumah bugisdi bagian utara jl. Mangga dua di daerah kampung bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah
seperti ini di daerah kota
2. Penduduk Betawi
Komunitas
penduduk di Jawa (Pulau Nusa Jawa) yang berbahasa Melayu, dikemudian
hari disebut sebagai orang Betawi. Orang Betawi ini disebut
juga sebagai orang Melayu Jawa. Merupakan hasil percampuran antara
orang-orang Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makasar, Ambon, Manado, Timor,
Sunda, dan mardijkers (keturunan Indo-Portugis) yang mulai menduduki kota pelabuhan
Batavia sejak awal abad ke-15. Di samping itu, juga merupakan
percampuran darah antara berbagai etnis: budak-budak Bali,
serdadu Belanda dan serdadu Eropa lainnya, pedagang Cina atau
pedagang Arab, serdadu Bugis atau serdadu Ambon, Kapten
Melayu, prajurit Mataram, orang Sunda dan orang Mestizo.
Sementara itu mengenai manusia Betawi purbakala,
adalah sebagaimana manusia pulau Jawa purba pada umumnya, pada zaman
perunggu manusia Betawi purba sudah mengenal bercocok tanam.
Mereka hidup berpindah-pindah dan selalu mencari tempat hunian yang
ada sumber airnya serta banyak terdapat pohon buah-buahan. Mereka pun
menamakan tempat tinggalnya sesuai dengan sifat tanah yang
didiaminya, misalnya nama tempat Bojong, artinya "tanah
pojok".
Dalam buku Jaarboek van Batavia (Vries, 1927)
disebutkan bahwa semula penduduk pribumi terdiri dari suku Sunda tetapi
lama kelamaan bercampur dengan suku-suku lain dari Nusantara juga
dari Eropa, Cina, Arab, dan Jepang. Keturunan mereka disebut
inlanders, yang bekerja pada orang Eropa dan Cina sebagai pembantu
rumah tangga, kusir, supir, pembantu kantor, atau opas. Banyak yang
merasa bangga kalau bekerja di pemerintahan meski gajinya kecil.
Lain-lainnya bekerja sebagai binatu, penjahit, pembuat sepatu dan
sandal, tukang kayu, kusir kereta sewaan, penjual buah dan kue, atau
berkeliling kota dengan "warung dorongnya". Sementara sebutan wong Melayu atau orang Melayu lebih
merujuk kepada bahasa pergaulan (lingua franca)
yang dipergunakan seseorang, di samping nama "Melayu"
sendiri memang sudah menjadi sebutan bagi suku bangsa yang berdiam
di Sumatra Timur, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat.
Posisi wanita Betawi di bidang
pendidikan, perkawinan, dan keterlibatan dalam angkatan kerja relatif
lebih rendah apabila dibandingkan dengan wanita lainnya di Jakarta
dan propinsi lainnya di Indonesia. Keterbatasan kesempatan wanita
Betawi dalam pendidikan disebabkan oleh kuatnya pandangan hidup
tinggi mengingat tugas wanita hanya mengurus rumah tangga
atau ke dapur, disamping keterbatasan kondisi ekonomi
mereka. Situasi ini diperberat lagi dengan adanya prinsip kawin umur
muda masih dianggap penting, bahkan lebih penting dari pendidikan.
Tujuan Undang-Undang Perkawinan untuk meningkatkan posisi wanita
tidak banyak memberikan hasii. Anak yang dilahirkan di Jakarta,
tidak mempunyai hubungan dengan tempat asal di luar wilayah bahasa
Melayu, dan tidak mempunyai hubungan kekerabatan atau adat
istiadat dengan kelompok etnis lain di Jakarta.
3. Kepercayaan
Orang
Betawi sebagian besar menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen;
Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku
Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan
campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena
pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan
Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan
Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas
Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta
Utara.
4. Sistem Mata
Pencaharian
Mata
pencaharian orang Betawi dapat dibedakan antara yang berdiam di
tengah kota dan yang tinggal di pinggiran. Di daerah pinggiran
sebagian besar adalah petani buahbuahan, petani sawah dan pemelihara
ikan. Namun makin lama areal pertanian mereka makin menyempit, karena
makin banyak yang dijual untuk pembangunan perumahan, industri, dan
lain-lain. Akhirnya para petani ini pun mulai beralih pekerjaan
menjadi buruh, pedagang, dan lain-lain.
5. Seni dan Kebudayaan
a) Musik
Dalam
bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni usic Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi usic Arab, Keroncong
Tugu dengan latar
belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor danKeroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti
“Kicir-kicir”.
b) Seni Tari
Seni
tari di Jakarta merupakan perpaduan antara nsure-unsur budaya masyarakat yang
ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di
Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum
penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis.
Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang
dinamis.
c) Drama
Drama
tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya
menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu,
pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat
berinteraksi langsung dengan penonton.
d) Cerita Rakyat
Cerita
rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal
seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara
Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras”. Selain
mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman olonial.
e) Senjata
Tradisional
Senjata
khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan
terbuat dari kayu.
f) Makanan
Jakarta
memiliki beragam masakan khas sebagai kekayaan kuliner Indonesia. Sebagai kota
metropolitan Jakarta banyak menyediakan makanan khas. Salah satu ciri dari
makanan khas Jakarta adalah memiliki rasa yang gurih. Makanan-makanan khas dari
Betawi / Jakarta di antaranya adalah : kerak telor, kembang goyang, roti buaya, kue rangi.
5. Bahasa
Sifat
campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara
umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang
berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada
juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia
juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah,
Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah
diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena
itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum
Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di
Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena
perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda
menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda
dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari
Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih
tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak,
Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi
Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan
penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini
disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Meskipun bahasa formal yang
digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa
percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.
6. Sistematika Kegiatan
a)
Lokasi Kegiatan : Kampung Betawi Setu Babakan, Jakarta
Selatan.
b)
Waktu kegiatan : 09.00 WIB
c)
Pihak yang dilibatkan : Babeh Jawara (Pak Riza), Babeh
Baju Adat
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan di atas, maka kesimpulannya adalah kesenian dan kebudayaan Suku
Betawi merupakan kebudayaan asli kota Jakarta dan memiliki jenis musik seperti
Gambang Keromong, Tanjidor. Menggukan bahasa dengan 2 dialek. Dari bidang seni
teater terdapat lenong. Kemudian terdapat cerita rakyat serta Ondel-ondel
sebagai pertunjukan khasnya. Ini membuktikan bahwa tiap daerah yang ada di
Indonesia memiliki budaya daerah masing-masing.
Saran
Keaekaragaman
kebudayaan Indonesia harus bisa menjaga kelestarian seni dan budayanya.
Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Namun, perlu didukung
dan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Agar seni dan budaya dapat terjaga
kelestariannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar