SUKU TENGGER
A. ASAL-USUL
SUKU TENGGER
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku
Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari
Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger
diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro
Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger
yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma
merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger. Menurut beberapa ahli
sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu
hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau
Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang
ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan
kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan
pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar
pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil
dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
B. KEPERCAYAAN
ORANG TENGGER
Masyarakat Adat Tengger percaya pada dewa-dewa, salah satu dewa
yang mereka sembah adalah Dewa Bumi Truka Syang Hyang Dewata Batur. Agama yang
dianut oleh Masyarakat Adat Tengger masih belum jelas. Artinya mereka belum
melaksanakan ibadah agama sebagaimana ditentukan oleh agama-agama besar. Meskipun
Masyarakat Adat Tengger belum melaksanakan ibadah sebagaimana yang ditentukan
oleh agama-agama besar, mereka mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap
adanya roh, arwah orang meninggal, makhluk halus yang mereka sebut Adma. Adma
mereka personifikasikan sebagai danyang atau penunggu desa. Dalam sistem
kepercayaan terhadap danyang, mereka memperlakukannya dengan hormat supaya
tidak marah. Tempat khusus yang mereka sediakan untuk melakukan penghormatan
kepada danyang adalah pundhen danyang. Pundhen adalah tempat yang dikeramatkan,
macamnya ada dua yaitu pundhen danyang, dan pundhen sanggar. Pundhen danyang
merupakan tempat untuk menghormati adma, sedangkan pundhen sanggar merupakan
tempat untuk melakukan Upacara Unan-unan. Kepercayaan tersebut tercermin pada
legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Kedua tempat itu
dianggap sebagai tempat yang suci dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tempat
suci yang utama adalah laut pasir (Segara Wedhi).
C. RITUAL
KEAGAMAAN ORANG TENGGER
a.
Hari
Raya Karo
Perayaan Karo atau hari raya Karo orang Tengger yang jatuh pada
bulan ke-2 kalender Tengger (bulan Karo) sangat mirip dengan perayaan Lebaran
atau Hari Raya Fitri yang dirayakan umat Islam. Asal-mula diadakannya perayaan
Karo, menurut cerita masyarakat Tengger adalah untuk memperingati meninggalnya
dua orang abdi yang setia dalam melaksanakan tugasnya. Yaitu seseorang bernama
Setio Abdi dari Aji Saka, dan seorang lagi bernama Satuhu Abdi dari Kanjeng
Nabi Muhammad. Tujuan upacara Karo diadakan ialah memohon selamat untuk
penghormatan kepada bapak dan ibu, karena dengan perantaraan keduanyalah Tuhan
telah menyebarkan bibit manusia.
b.
Hari
Raya Kasada
Hari Raya Kasada ini adalah hari raya kurban orang Tengger yang
diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat
bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban
ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma
alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Joko Seger,
yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta
para saudaranya. Upacara ini merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan
Hyang Widi dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan
melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger. Mereka percaya, jika
mereka tidak turut merayakannya maka kehidupannya tidak akan tentram.
Sebaliknya jika mereka melaksanakan upacara tersebut, maka hidupnya akan selamat
dan dimurahkan rejeki.
c.
Upacara
Kelahiran
Pada saat ibu hamil 7 bulan dirayakan dengan Upacara Sesayut.
Kelahiran disambut dengan upacara untuk memberitahukan tanah tempat kelahiran. Setelah
bayi lahir dengan selamat yang bersangkutan mengadakan upacara sekul brokohan.
Ari-ari bayi yang mereka sebut batur teman disimpan dalam tempurung, kemudian
ditaruh di sanggar. Pada hari ketujuh atau kedelapan setelah kelahiran, yang
bersangkutan mengadakan upacara cuplak puser, yakni pada saat pusar telah
kering dan akan lepas. Upacara ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang
masih tersisa di tubuh bayi agar bayi selamat. Pada waktu diberi nama, keluarga
bayi mengadakan selamatan jenang abang dan jenang putih (bubur merah dan bubur
putih yang terbuat dari beras). Maksud dari upacara ini juga untuk memohon
keselamatan.
d.
Upacara
Perkawinan
kembali dirayakan dengan
upacara Walagara. Perkawinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan
manusia, sebab perkawinan bukan hanya menyangkut dua orang yang memadu cinta
saja tetapi perkawinan juga melibatkan dua keluarga dan masyarakat secara umum.
Menurut kepercayaan Masyarakat Tengger, peristiwa perkawinan juga diikuti oleh
arwah-arwah para leluhur kedua belah pihak. Sebelum upacara perkawinan dimulai,
didahului dengan acara nelasih atau ziarah kubur dan memberikan tetamping atau
sesaji.
e.
Upacara
Kematian
Upacara Kematian diselenggarakan secara gotong royong. Para
tetangga memberi bantuan perlengkapan dan keperluan untuk upacara penguburan.
Bantuan spontanitas tersebut berupa tenaga, uang, beras, kain kafan, gula, dan
lain-lain yang disebut nglawuh. Masyarakat Tengger tidak mengenal pembakaran
mayat seperti di Bali, tetapi melakukan pembakaran boneka berpakaian yang dilambangkan
manusia yang meninggal ditempat pembakaran setelah mayat dimakamkan. Sesudah
dimandikan dengan air yang dimantrai oleh dukun, mayat orang meninggal lalu
dikafani kain putih tiga lapis, kemudian diusung dengan ancak terbuat dari
bambu, dikubur membujur ke timur dan terlentang. Selanjutnya diadakan upacara
“misahi”, yaitu perpisahan antara orang yang meninggal dengan keluarganya,
dipimpin seorang dukun. Selanjutnya setelah 44 hari atau lebih diadakan Upacara
“Entas-Entas”. Upacara ini dimaksudkan untuk memohon ampun kepada Sang Maha
Agung agar arwah almarhum yang masih “Nglambrang” (melayang-layang tak menentu)
segera dapat masuk surga.
D. INTERAKSI
ORANG TENGGER DENGAN AGAMA LAIN
Masyarakat Tengger dikenal sebagai masyarakat yang sangat teratur
dan serasi, jarang sekali diantara mereka terjadi perselisihan, permusuhan, dan
perbuatan-perbuatan lain yang bersifat destruktif. Seperti salah satu desa yang
bernama desa Wonokitri di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan yang terletak di
kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan merupakan desa sebagai
tempat tinggal komunitas Suku Tengger. Terdapat keunikan pada pola kehidupan
sosial budaya masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri terkait dengan perilaku
positif masyarakatnya dalam tindakan pemanfaatan ruang dan adaptasi terhadap
lingkungan di sekitarnya. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger
Desa Wonokitri bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat.
Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku dan tindakan masyarakat Suku Tengger Desa
Wonokitri diatur oleh ketentuan adat berupa aturan-aturan adat dan hukum adat
yang berfungsi sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat. ada sebuah
sistem pengendalian sosial yang disepakati dan dijaga kelestariannya oleh
masyarakat Tengger, yaitu adanya hukum adat untuk mencegah timbulnya ketegangan
sosial yang terjadi dalam masyarakat.Aturan-aturan adat yang harus ditaati
masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri antara lain: 1. Tidak boleh menyakiti atau membunuh binatang
(kecuali untuk korban dan dimakan) 2.
Tidak boleh mencurI 3. Tidak boleh melakukan perbuatan jahat 4. Tidak
boleh berdusta 5. Tidak boleh minum
minuman yang memabukkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar