SUKU DAYAK
A. ASAL-USUL
SUKU DAYAK
Asal usul suku dayak diperkirakan merupakan keturunan dari ras
Mongolid, Asia. Seperti diketahui bahwa 2000 tahun sebelum masehi, benua Asia
masih menyatu dengan Pulau Kalimantan. Ras mongolid yang terdesak karena kalah perang,
mengembara ke arah Selatan, mulai dari Semenanjung Malaya, Serawak, hingga
Kalimantan. Ras Mongolid ini kemudian menetap, mendirikan perkampungan di
tepian-tepian sungai, beranak pinak, dan membangun kebudayaannya sendiri di
tanah Borneo. Seiring waktu berlalu, suku bangsa Melayu dari Sumatera dan
Semenanjung Malaya, Orang-orang suku Bugis, Makassar, dan Jawa yang datang
dalam rentang waktu yang lama, mendesak orang-orang ras Mongolid yang menjadi
asal usul suku dayak ini untuk semakin masuk, naik ke huluan sungai. Mereka
terpencar-pencar, menyebar, dan mendiami daerah daerah pedalaman. Masing-masing
dari mereka kemudian mengembangkan adat budayanya masing-masing dan menjadi
cikal bakal beragamnya sub etnis suku dayak di tanah Kalimantan. Di runut dari
sejarahnya, suku dayak sebetulnya pernah mendirikan sebuah kerajaan bernama
Kerajaan Dayak Nansarunai. Akan tetapi, kerajaan ini tidak bertahan lama. Ia
digempur dan dihancurkan oleh kedigdayaan Majapahit yang saat itu tengah gencar
melakukan ekspansi wilayah. Sejarah dan asal usul suku dayak juga dipengaruhi
oleh budaya dari suku atau bangsa lain yang masuk ke wilayah Kalimantan.
Misionaris Kristen misalnya yang telah berhasil mengubah kepercayaan suku dayak
yang awalnya animisme menjadi percaya pada Al-Kitab, budaya Islam yang dibawa
orang-orang Jawa di masa kejayaan kerajaan Demak telah membuat sebagian kecil
masyarakat dayak beralih menganut Islam, serta kebudayaan Tionghoa yang
menambah keragaman pengetahuan seni mereka seperti piring malawen, belanga, dan
peralatan keramik. Terlepas dari akulturasi dan pengaruh budaya dari suku
bangsa lainnya, pada kenyatannya saat ini suku dayak telah terbagi menjadi 6
stanmenras atau 6 rumpun. Keenam rumpun yang antara lain rumpun Klemantan,
rumpun Iban, rumpun Apokayan, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju, dan rumpun
Punan tersebut menyebar ke seluruh wilayah di Kalimantan, mulai dari Kalimantan
Barat, Timur, Tengah, Selatan, dan Kalimantan Utara.
B. SISTEM
KEPERCAYAAN ORANG DAYAK
Kaharingan adalah kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan,
ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.Istilah Kaharingan artinya tumbuh
atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan),maksudnya
agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup
dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di
Kalimantan. Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk
menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh
sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti
Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama
Hindu sejak 20 April 1980, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana
kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama
Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang
Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama
Kaharingan disebut Ranying.
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan
Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan
dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar
(petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan
sebagainya.
C. RITUAL
KEAGAMAAN
Ritual Tiwah
diyakini oleh masyarakat Dayak sebagai sarana meluruskan perjalanan arwah
mereka yang sudah meninggal untuk masuk surga. Bagi masyarakat Dayak, surga
dikenal dengan nama Lewu Tatau yang merupakan sebuah tempat yang penuh
kedamaian bersama Yang Maha Kuasa. Namun selain itu, Ritual Tiwah juga
ditujukan untuk membuang sial bagi keluarga yang ditinggalkan agar terhindar
dari pengaruh buruk yang bisa saja datang kepada mereka. Selain sebagai
pengharapan agar terhindar dari pengaruh buruk, Ritual Tiwah juga memiliki
maksud lain. Yaitu sebagai sarana melepas ikatan status janda atau duda bagi
pasangan yang sudah berkeluarga sehingga pasangan yang ditinggalkan dapat
memilih dan memulai hidup baru dengan orang yang baru.
Biasanya juga dilaksanakan ritual lain sebagai pelengkapnya.
Seperti misal diadakannya upacara Tantulak dan juga beberapa acara
lainnya seperti acara penombakan hewan- hewan kurban seperti kerbau, sapi dan
babi.
Pakanan Sahur Lewu Dayak adalah memberikan sesajen kepada para leluhur atau para dewa yang
melindungi warga desa atau kampung sebagai tanda terimakasih atas berkat dunia.
Lewat ritual Pakanan Sahur Lewu Dayak ini diharapkan masyarakat luas dapat
hidup tentram, rukun dan damai serta mendapatkan rejeki berlimpah dalam
mengarungi hidup. Upacara ritual yang disebut Pakanan Sahur Lewu bagi Suku
Dayak ini biasanya dilakukan secara berkala sekali dalam setahun. Umumnya
Pakanan Sahur Lewu digelar setelah panen berladang atau sawah dan bertepatan
dengan tahun baru kalender Dayak, yakni sekitar Bulan Mei dalam hitungan
Kalender Masehi. Upacara Pakanan Sahur Lewu biasanya dipimpin oleh tokoh Agama
Kaharingan (agama orang dayak) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Basir.
Ritual Nahunan merupakan
upacara khas suku Dayak Kalimantan yakni upacara memandikan bayi secara ritual
menurut kebiasaan suku Dayak Kalimantan Tengah. Maksud utama dari pelaksanaan
Nahunan adalah prosesi pemberian nama sekaligus pembaptisan menurut Agama
Kaharingan(agama orang dayak asli dari leluhur) kepada anak yang telah lahir.
Ritual Dayak Pananan Batu adalah ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau
sawah. Upacara Suku Dayak bernama Pakanan Batu ini dimaksudkan sebagai ungkapan
rasa syukur dan terimakasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam
sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen. Benda atau barang dituakan
dalam ritual dayak ini adalah batu. Benda ini dianggap sebagai sumber energi,
yaitu menajamkan alat-alat yang digunakan untuk becocok tanam. Misalnya untuk
mengasah parang, balayung, kapak, ani-ani atau benda dari besi lainnya. Selain
memberikan kelancaran pekerjaan, bagi para pemakai peralatan bercocok tanam
danberladang, batu dianggap pula telah memberikan perlindungan bagi si pengguna
peralatan sehingga tidak luka atau mengalami musibah saat membuka lahan untuk
becocok tanam.
. D. INTERAKSI
KEPERCAYAAN ORANG DAYAK DENGAN AGAMA LAIN
Sejarah dan asal usul suku dayak juga dipengaruhi oleh budayadari
suku atau bangsa lain yang masuk ke wilayah Kalimantan. Misionaris Kristen
misalnya yang telah berhasil mengubah kepercayaan suku dayak yang awal mulanya
animism menjadi kepercayaan al kitab. Budaya islam juga dibawa orang-orang jawa
dimasa kejayaan kerajaan demak telah membuat sebagian kecil masyarakat dayak
beralih menganut agama islam, serta kebudayaan Tiong Hoa yang menambah
keberagaman pengetahuan seni mereka seperti malawen, belanga, dan peralatan
keramik.
Sebagian besar suku dayak memeluk agama islam dan tidak lagi
mengakui dirinya sebagai orang dayak, tetapi malah menyebut dirinya sebagai
orang melayu atau orang banjar. Sedangkan orang dayak yang menolak agama islam
kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman Kalimantan tengah, bermukim ke
daerah-daerah kayu tinggi, amuntai, margasari, watang amandit, Labuan lawas dan
watang balangan hingga terdesak masuk ke hutan rimba. Orang dayak yang menganut
agama islam kebanyakan bertempat di daerah Kalimantan selatan dan sebagian kota
waringin. Salah seorang sultan dari kasultanan banjar yang terkenal sebagai
Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang dayak (Ma’anyan atau Ot)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar