AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

RESPONDING PAPER AGAMA LOKAL SUKU JAWA KEL 8

SUKU JAWA

      A.  ASAL-USUL SUKU JAWA
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa Sebelumnya Suku Jawa Berjumlah 47,05% Pada Tahun 1930 Yang Di Adakan Oleh Pemerintahan Kolonial Belanda Pada Waktu Itu .Penurunan Ini Terjadi Karena Banyaknya Orang Jawa Yang Menjadi Bagian Dari Etnis Setempat Di Beberapa Daerah Di Indonesia.[3] Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Banten dan Kalimantan Timur. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti Suku Osing, Orang Samin, Suku Tengger, dan lain-lain. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Suriname, Amerika Selatan karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.

      B.   KEPERCAYAAN  ORANG JAWA

Mayoritas orang Jawa menganut agama Islam (sekitar 95%). Masyarakat Muslim Jawa umumnya dikategorikan ke dalam 3 golongan, yaitu kaum Priyai, Santri dan Abangan. Kaum Priyai adalah kaum bangsawan dalam adat jawa, Kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat. Orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 4%), Sekitar 1% Orang Jawa lainnya juga menganut Hindu, Buddha maupun kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai Kejawen.
Kejawen adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (lit. "Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan") dan membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (lit. "Bersatunya Hamba dan Tuhan").
Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk Agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental. Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah sepiritualis kejawen yang utama adalah Pasa (Berpuasa) dan Tapa (Bertapa).

      C.  RITUAL KEAGAMAAN ORANG JAWA
Sejak jaman awal islam, banyak sekali tradisi-tradisi yang dibirkan berlanjut tapi spirit (jiwa dan semangatnya) diubah atau disesuaikan dengan nilai-nilai islam, seperti tata cara perkawinan masyarakat Arab pra-islam banyak yang dilestarikan sekaligus diislamkan  bagian intinya. Ini yang oleh sementara ahli antrophologi budaya disebut sebagai “islamisasi tradisi” atau “islamisasi budaya”. Dalam masyarakat jawa ada ritual atau tradisi yang dipertahankan misalnya dalam agama islam sendiri terdapat tradisi-tradisi seperti tahlilan, ziarah kubur, haul dan sebagainya. Kegiatan tersebut tidak lepas dari kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat jawa khususnya masyarakat yang beragama islam.
·         Tahlilan di lingkungan masyarakat islam
Tahlil itu berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya membaca kalimah la ilaha illallah. Di masyarakat jawa sendiri berkembang pemahaman bahwa setiap ada pertemuan yang ada di dalamnya dibaca kalimah itu biasanya dilakukan di masjid, mushola, rumah, atau lapangan.
·         Ziarah kubur atau mengunjungi makam
Kebiasaan yang masih banyak kita lihat dan masih dipertahankan oleh masyarakat islam jawa adalah ziarah kubur. Sudah menjadi pemandangan umum di masyarakat kalau tidak kamis sore kadang jumat pagi. Hal ini dilakukan karena sejak agama islam belum masuk ke jawa masyarakat jawa pun melakukan ziarah kubur namun masih dalam kepercayaan hindu-budha.
·         Haul
Kata “haul” berasal dari bahasa Arab, artinya setahun. Peringatan haul berarti peringatan genap satu tahun. Biasanya peringatan-peringatan seperti ini kebanyakan dilakukan oleh masyarakat islam jawa, gema haul akan lebih terasa dahsyat apabila yang meninggal itu seorang tokoh kharismatik, ulama besar atau pendiri sebuah pesantren. Rangkaian acaranya biasanya dapat bervariasi , adapengajian, tahlil akbar, mujahadah, musyawarah.
Upacara keagamaan dan makna Keselamatan Orang jawa. Slametan terbagi dalam empat jenis yaitu :
1.     Yang ada hubungannya dengan hari-hari raya Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya
2.     Yang ada sangkutannya dengan intregasi sosial desa, bersih desa, (harfiah berarti pembersihan desa, yakni dari roh-roh jahat
3.     Slametan sela yang Yang berkisar sekitar krisis-krisis kehidupan seperti kelahiran, khitanan dan kematian
4.     diselenggarakan dalam waktu yang tidak tepat, tergantung kepada kejadian luar biasa yang dialami seseorang. Keberangkatan untuk suatu perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung dan sebagainya.
Selametan ini mempunyai makna sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan yang Esa atas nikmat yang Ia berikan. Dalam slametan ini ada beberapa makanan yang wajib disajikan seperti sesajin, bubur merah, air putih, dll.

      D.   INTERAKSI ORANG JAWA DENGAN AGAMA LAIN
Masuknya ajaran Hindu dan Budha ternyata tidak menghapus agama asli masyarakat Jawa. Agama asli tidak punah, tetapi justru menemukan bentuk dan tempatnya yang lebih baik bagi perkembangan keyakinan tersebut. Walau demikian, Hindu-Budha memberikan konsep baru dengan mentranformasikan keyakinan masyarakat akan kekuatan pada benda-benda dan ruh menuju pada kekuatan figur-figur tertentu, yakni raja-raja. Raja dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Dari kosep ini muncullah budaya untuk patuh tanpa reserve pada raja.

Jaman kerajaan Jawa-Islam membawa pengaruh besar. Dimulai dari transformasi keyakinan dari Hindu-Budha ke Islam. Transformasi ini didukung oleh raja yang juga ikut memeluk Islam. Penyebar Islam di Jawa adalah Walisongo, sebagai juru dakwah dan guru tarekat. Corak Islam Jawa adalah bercorak tasawuf. Sementara itu, pandangan hidup masyarakat Jawa sebelumnya bercorak mistik sehingga pandangan Islam yang bercorak tasawuf ini sejalan dengan keyakinan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...