AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

RESPONDING PAPER AGAMA LOKAL SUKU SAKAI KEL 8

SUKU SAKAI


      A.   ASAL-USUL ORANG SAKAI
Suku Sakai merupakan komunitas asli suku pedalaman yang hidup di daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah. Dari tempat tinggal, masyarakat Sakai dapat dibedakan menjadi sakai Luar dan sakai Dalam. Sakai dalam merupakan warga sakai yang masih hidup setengah menetap dalam rimba belantara, dengan mata pencarian berburu, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan. Sakai luar adalah warga yang mendiami perkampungan berdampingan dengan pemukiman-pemukiman puak melayu dan suku lainnya. Suku sakai tergolong dalam ras Veddoid dengan ciri-ciri rambut keriting berombak. Kulit coklat kehitaman, tinggi tubuh laki-laki sekitar 155 cm dan perempuan 145 cm. Untuk berhubungan satu sama lain, orang Sakai menggunakan bahasa sakai. Banyak diantara mereka mengujar logat-logat bahasa batak Mandailing, bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu.
Orang Sakai berasal dari Pagaruyung dan Batusangkar. Orang-orang Sakai dulunya adalah penduduk Negeri Pagaruyung yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut. Waktu itu Negeri Pagarruyung sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, sang raja yang berkuasa kemudian mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagarruyung itu sebagai tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman baru. Keturunan mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai.
      B.  KEPERCAYAAN  SUKU SAKAI
Suku sakai masih percaya kepada keyakinan asli dari nenek moyangnya bahwa lingkungan hidup mereka di huni oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan 'antu' atau hantu (dalam bahasa melayu).  Antu itu ada yang baik dan ada yang jahat. Mereka tinggal dan menjadi penghuni pepohonan, sungai-sungai, rawa-rawa, wilayah hutan, ladang, tempat pemukiman, rumah, dan sebagainya. Seperti halnya dengan manusia maka antu-antu tersebut ada yang hidup menyendiri dan ada juga yang hidup dalam satu kesatuan masyarakat yang kecil dan besar atau kerajaan. Dalam konsep kebudayaan orang sakai, kerajaan antu berada di tengah-tengah rimba belantara yang belum pernah dirambah manusia. Bagi orang sakai berbagai macam penyakit yang mereka derita, kemalangan, dan kematian, sebagian besar disebabkan oleh gangguan antu. Walaupun demikian tidak ada rasa takut terhadap antu, kecuali anak-anak kecil yang biasanya ditakuti-takuti orang tuanya atau oleh mereka yang lebih tua kalau mereka selalu menangis atau tidak menurut perintah. Ketidaktakutan mereka terhadap antu tersebut disebabkan oleh adanya keyakinan bahwa antu-antu itu memang ada di alam sekeliling tempat mereka hidup, dan bahwa ada mantra-mantra dan upacara-upacara ritual yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh antu.  Dalam konsep mereka, arwah dari orang-orang mati juga menjadi bagian dari antu-antu tersebut, arwah dari orang-orang yang meninggal ditakuti oleh anggota-anggota keluarganya yang masih hidup, terkecuali anak kecil atau bayi yang baru lahir ketakutan itu di sebabkan oleh adanya keyakinan bahwa arwah yang baru saja meninggal sebenarnya hidup di dunia lain tetapi berada di tempat anggota keluarganya yang masih hidup. Oleh karena itu, bila ada orang yang meninggal dunia maka keluarga yang di tinggalkan mati keluar meninggalkan rumah kediaman mereka selama satu minggu setelah si mati dikubur, dan supaya arwah si mati tidak menempel terus pada diri mereka maka caranya adalah menyebrangi sungai, karena orang mati tidak menyebrangi sungai. 

      C. RITUAL KEAGAMAAN ORANG SAKAI
Dilingkungan masyarakat Suku Sakai masih ditemukan upacara yang berkaitan dengan daur hidup. Pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan secara turun temurun yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku Sakai. Adapun upacara tersebut antara lain:
Upacara kematian . Sebelum orang Sakai memeluk Agama Islam atau Kristen maka jika ada seorang Sakai meninggal dunia, maka mayatnya di letakan di tengah-tenga rumah. Para kerabat dan tetangga satu “perbatinan” diberitahu. Jika seorang “pak kuneng” atau saudara laki-laki ibu tertua dari “ego” maka si “ego” harus segera mengambil sebilah parang dan dengan parah tersebut melukai keningnya sampai darahnya mengucur. Bila yang meninggal dunia seorang yang massih muda maka “pak kuneng” dari si mati melakukan hal yang sama. Darah yang mengucur tersebut harus diteteskan di muka dan dada si mayat.
 Upacara kelahiran
Upacara pernikahan
Upacara penobatan batin (orang yang dituakan atau pemimpin suku) baru.
Selain upacara yang berkaitan dengan lingkungan hidup ada juga upacara yang berkaitan dengan peristiwa alam diantaranya,
Upacara menanam padi
Upacara menyiang
Upacara sorang sirih
Upacara tolak bala.
Pada saat ini masyarakat suku Sakai sudah mengalami perubahan sebagian sudah memeluk agama Islam dan memperoleh pendidikan mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Masyarakat suku Sakai tidak hanya bekerja sebagai peramu tetapi sudah ada yang bekerja sebagai guru, pegawai negeri, pedagang, petani dan nelayan. Walaupun sudah mengalami perubahan dalam masyarakat Sakai tetapi masih berkaitan dengan upacara daur hidup masih melekat dalam kehidupan mareka. Masyarakat berpandangan apabila tidak melaksanakan upacara tersebut akan mendapatkan musibah menurut kepercayaan mereka yaitu akan diganggu oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan antu (hantu).

      D. INTERAKSI KEPERCAYAAN ORANG SAKAI DENGAN AGAMA LAIN

Sebagian dari orang Sakai di kecamatan Mandau ada yang memeluk agama kristen di samping mayoritas agama kristen walaupun jumlah mereka yang memeluk agama Kristen amat sedikit bila di bandingkan dengan yang memeluk agama Islam, Tetapi Tokoh-Tokoh Islam Di Kecamatan Manda umeng khawatirkan perluasan jumlah mereka. Kemudian masyarakat Sakai yang memeluk Agama Kristen ini tetap menjalankan cara-cara kehidupan mereka sebagai Orang Sakai yaitu berladang; sedangkan bagian lainnya mengubah mata pencaharian mereka menjadi pedagang atau buruh. Yang menarik adalah bahwa kalau sehari-hari Orang-orang Sakai beragama Kristen itu tampak kumal tetapi pada hari Minggu, pada waktu pergi ke gereja, mereka tampak berpakaian rapih. Karena itu Agama Orang Sakai itu bersifat lokal dan hanya berlaku untuk tingkat lokal, baik dalam pengertian wilayah maupun corak kegiatannya yang khusus lokal yang tidak tercakup di dalam dan oleh ajaran-ajaran Agama besar Islam dan Kristen. Salah satu perwujudannya adalah cara pengobatan yang mereka namakan “dikir” (yang tidak sama “zikir” dalam Islam).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...