SUKU SAKAI
A. ASAL-USUL
ORANG SAKAI
Suku Sakai merupakan komunitas asli suku pedalaman yang hidup di
daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang
hidup berpindah-pindah. Dari tempat tinggal, masyarakat Sakai dapat dibedakan
menjadi sakai Luar dan sakai Dalam. Sakai dalam merupakan warga sakai yang
masih hidup setengah menetap dalam rimba belantara, dengan mata pencarian
berburu, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan. Sakai luar adalah warga yang
mendiami perkampungan berdampingan dengan pemukiman-pemukiman puak melayu dan
suku lainnya. Suku sakai tergolong dalam ras Veddoid dengan ciri-ciri rambut
keriting berombak. Kulit coklat kehitaman, tinggi tubuh laki-laki sekitar 155
cm dan perempuan 145 cm. Untuk berhubungan satu sama lain, orang Sakai
menggunakan bahasa sakai. Banyak diantara mereka mengujar logat-logat bahasa
batak Mandailing, bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu.
Orang Sakai berasal dari Pagaruyung dan Batusangkar. Orang-orang Sakai
dulunya adalah penduduk Negeri Pagaruyung yang melakukan migrasi ke kawasan
rimba belantara di sebelah timur negeri tersebut. Waktu itu Negeri Pagarruyung
sangat padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk tersebut, sang
raja yang berkuasa kemudian mengutus sekitar 190 orang kepercayaannya untuk
menjajaki kemungkinan kawasan hutan di sebelah timur Pagarruyung itu sebagai
tempat pemukiman baru. Setelah menyisir kawasan hutan, rombongan tersebut
akhirnya sampai di tepi Sungai Mandau. Karena Sungai Mandau dianggap dapat
menjadi sumber kehidupan di wilayah tersebut, maka mereka menyimpulkan bahwa
kawasan sekitar sungai itu layak dijadikan sebagai pemukiman baru. Keturunan
mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang Sakai.
B. KEPERCAYAAN SUKU SAKAI
Suku sakai masih percaya kepada keyakinan asli dari nenek moyangnya
bahwa lingkungan hidup mereka di huni oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan
'antu' atau hantu (dalam bahasa melayu).
Antu itu ada yang baik dan ada yang jahat. Mereka tinggal dan menjadi
penghuni pepohonan, sungai-sungai, rawa-rawa, wilayah hutan, ladang, tempat
pemukiman, rumah, dan sebagainya. Seperti halnya dengan manusia maka antu-antu
tersebut ada yang hidup menyendiri dan ada juga yang hidup dalam satu kesatuan
masyarakat yang kecil dan besar atau kerajaan. Dalam konsep kebudayaan orang
sakai, kerajaan antu berada di tengah-tengah rimba belantara yang belum pernah
dirambah manusia. Bagi orang sakai berbagai macam penyakit yang mereka derita,
kemalangan, dan kematian, sebagian besar disebabkan oleh gangguan antu.
Walaupun demikian tidak ada rasa takut terhadap antu, kecuali anak-anak kecil yang
biasanya ditakuti-takuti orang tuanya atau oleh mereka yang lebih tua kalau
mereka selalu menangis atau tidak menurut perintah. Ketidaktakutan mereka
terhadap antu tersebut disebabkan oleh adanya keyakinan bahwa antu-antu itu
memang ada di alam sekeliling tempat mereka hidup, dan bahwa ada mantra-mantra
dan upacara-upacara ritual yang dapat digunakan untuk mengobati
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh antu.
Dalam konsep mereka, arwah dari orang-orang mati juga menjadi bagian
dari antu-antu tersebut, arwah dari orang-orang yang meninggal ditakuti oleh
anggota-anggota keluarganya yang masih hidup, terkecuali anak kecil atau bayi
yang baru lahir ketakutan itu di sebabkan oleh adanya keyakinan bahwa arwah
yang baru saja meninggal sebenarnya hidup di dunia lain tetapi berada di tempat
anggota keluarganya yang masih hidup. Oleh karena itu, bila ada orang yang
meninggal dunia maka keluarga yang di tinggalkan mati keluar meninggalkan rumah
kediaman mereka selama satu minggu setelah si mati dikubur, dan supaya arwah si
mati tidak menempel terus pada diri mereka maka caranya adalah menyebrangi
sungai, karena orang mati tidak menyebrangi sungai.
C. RITUAL
KEAGAMAAN ORANG SAKAI
Dilingkungan masyarakat Suku Sakai masih ditemukan upacara yang
berkaitan dengan daur hidup. Pelaksanaan upacara tersebut dilaksanakan secara
turun temurun yang masih dipertahankan oleh masyarakat suku Sakai. Adapun
upacara tersebut antara lain:
Upacara
kematian . Sebelum orang
Sakai memeluk Agama Islam atau Kristen maka jika ada seorang Sakai meninggal
dunia, maka mayatnya di letakan di tengah-tenga rumah. Para kerabat dan
tetangga satu “perbatinan” diberitahu. Jika seorang “pak kuneng” atau saudara
laki-laki ibu tertua dari “ego” maka si “ego” harus segera mengambil sebilah
parang dan dengan parah tersebut melukai keningnya sampai darahnya mengucur.
Bila yang meninggal dunia seorang yang massih muda maka “pak kuneng” dari si
mati melakukan hal yang sama. Darah yang mengucur tersebut harus diteteskan di
muka dan dada si mayat.
Upacara kelahiran
Upacara
pernikahan
Upacara
penobatan batin (orang yang dituakan atau pemimpin suku) baru.
Selain upacara
yang berkaitan dengan lingkungan hidup ada juga upacara yang berkaitan dengan
peristiwa alam diantaranya,
Upacara menanam
padi
Upacara
menyiang
Upacara sorang
sirih
Upacara tolak
bala.
Pada saat ini masyarakat suku Sakai sudah mengalami perubahan
sebagian sudah memeluk agama Islam dan memperoleh pendidikan mulai Sekolah
Dasar sampai Perguruan Tinggi. Masyarakat suku Sakai tidak hanya bekerja
sebagai peramu tetapi sudah ada yang bekerja sebagai guru, pegawai negeri,
pedagang, petani dan nelayan. Walaupun sudah mengalami perubahan dalam
masyarakat Sakai tetapi masih berkaitan dengan upacara daur hidup masih melekat
dalam kehidupan mareka. Masyarakat berpandangan apabila tidak melaksanakan
upacara tersebut akan mendapatkan musibah menurut kepercayaan mereka yaitu akan
diganggu oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan antu (hantu).
D. INTERAKSI
KEPERCAYAAN ORANG SAKAI DENGAN AGAMA LAIN
Sebagian dari orang Sakai di kecamatan Mandau ada yang memeluk
agama kristen di samping mayoritas agama kristen walaupun jumlah mereka yang
memeluk agama Kristen amat sedikit bila di bandingkan dengan yang memeluk agama
Islam, Tetapi Tokoh-Tokoh Islam Di Kecamatan Manda umeng khawatirkan perluasan
jumlah mereka. Kemudian masyarakat Sakai yang memeluk Agama Kristen ini tetap
menjalankan cara-cara kehidupan mereka sebagai Orang Sakai yaitu berladang;
sedangkan bagian lainnya mengubah mata pencaharian mereka menjadi pedagang atau
buruh. Yang menarik adalah bahwa kalau sehari-hari Orang-orang Sakai beragama
Kristen itu tampak kumal tetapi pada hari Minggu, pada waktu pergi ke gereja,
mereka tampak berpakaian rapih. Karena itu Agama Orang Sakai itu bersifat lokal
dan hanya berlaku untuk tingkat lokal, baik dalam pengertian wilayah maupun
corak kegiatannya yang khusus lokal yang tidak tercakup di dalam dan oleh
ajaran-ajaran Agama besar Islam dan Kristen. Salah satu perwujudannya adalah
cara pengobatan yang mereka namakan “dikir” (yang tidak sama “zikir” dalam
Islam).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar