SUKU NAULU
A. ASAL
USUL SUKU NAULU
Suku Naulu
sering disebut juga orang Naulu atau Nuahunai, artinya orang yang berdiam di
hulu Sungai Nua yaitu daerah dari mana mereka berasal sebelum menempati daerah
yang sekarang. Suku Naulu terletak di wilayah Kecamatan Amhai, kampung
Lama/Yahisiro dan Bonara. Naulu terdiri dari dua kata Nua yang berarti air, Ulu
artinya kepala. Jadi Naulu artinya suku yang mendiami kepala air Nua/ Sungai
Nua. Penamaan suku Naulu dilatar belakangi oleh tempat tinggal nenek moyang
mereka. Sungai Nua bersumber di gunung Manusela dan terbagi menjadi 2 bagian :
1. Nua Ulu yang bermuara ke Seram Uatar.
2. Nua Ulu yang bermuara ke Marakiri.
Asal
muasal mereka bertempat tinggal di Weri Hulawano (Kepala air Nua) karena terjadi
perselisihan antar klan. Akibat perselisihan itu para kepala suku bersepakat
untuk pindah ke pantai. Yang menjadi masalah mereka kemudian, pantai mana yang
cocok untuk menjadi tempat tinggal mereka yang baru ? mereka juga mencari
acuannya di mana matahari naik pada bagian mana matahari masuk. Masing-masing
kepala suku berebutan tempat pada kedua bagian tersebut. akibatnya, di antara
mereka pun berselisih lagi dan mereka kembali lagi ke Pia dan Weno di Amtrino. Sekian
lamanya mereka tinggal di Pia dan Weno,
kemudian mereka melakukan hubungan dengan Raja Sepa. Raja Sepa tidak keberatan
hidup berdampingan dengan Suku Naulu asal saja suku Naulu memenuhi
persyaratan-persyaratan yang di ajukan raja Sepa. Pesyaratannya yaitu :
1. Kebiasaan adat suku Naulu yang suka
memotong kepala mansia supaya dihilangkan dan diganti dengan kain merah
(berang) dan piring tua serta tikar sebagai pembungkus orang meninggal.
2. Baileu atau rumah adat yang biasanya
dipakai untuk rapat-rapat supaya dipindahkandari tepi pantai (tempat lama) ke
tempat baru. Dan tiang Leewaka ditanggung oleh suku Naulu.
B. KEPERCAYAAN
SUKU NAULU
Upu Kuanahatana atau Upu Allah taala
suatu zat yang merupakan kepercayaan tertinggi bagi suku Naulu. Apa saja
permohonan mereka langsung dimintakan kepada Allah taala. Untuk melaksanakan
pembacaan doa tersebut harus ada upacara adat terlebih dahulu, seperti makanan,
sirih, pinang, tembakau, kapur dan beberapa jenis daun tertentu yang di
letakkan di atas piring tua. Para tetua adat diundang dalam upacara tersebut,
tetua adat diundang dalam upacara tersebut, tetua berdiri di tengah pintu
sambil membaca kabata atau sejenis dengan itu. NamaUpu kuanahatana sering
mereka pergunakan dalam sumpah. Jika mereka bersumpah, mereka menyebut: “eh Upu
kuanahatana atau eh Upu Allah taala” sambil telunjuk mereka ke atas. Kalaupun
ada kepercayaan kepada arwah nenek moyang hal itu adalah bentuk penghargaan
atas jasa-jasa mereka selama hidupnya. Tetapi kepercayaan utama mereka hanya
kepada Upu Allah taala.
C. RITUAL
KEAGAMAAN
Suku ini sebenarnya memiliki
dua tradisi yang aneh yaitu mengasingkan wanita yang sedang haid dan
melahirkan, serta tradisi memenggal kepala manusia sebagai persembahan. Di
setiap pemukiman masyarakat suku ini baik yang telah dimukimkan pihak
pemerintah maupun yayasan pembinaan masyarakat terasing bahkan yang masih hidup
mengembara di pedalaman Pulau Seram, kaum lelakinya membangun gubuk-gubuk kecil
yang disebut gubuk posuno. Gubuk –gubuk ini dibangun sebagai tempat berlindung
sementara yang aman bagi kaum wanita saat mereka menjalani masa haid maupun
melahirkan. Gubuk posuno sebagai tempat mengasingkan diri sementara itu
berukuran 2×2 meter berdinding dan beratap daun sagu dilengkapi sebuah tempat
tidur yang disebut tapalang berukuran 1×2 meter. Masyarakat Suku Naulu
menganggap bahwa dengan mempersembahkan kepala manusia, maka rumah-rumah adat
mereka akan terbebas dari musibah.Selain itu, ada juga tradisi jika seorang
raja Suku Naulu hendak mengambil seorang menantu laki-laki, calon menantu
tersebut harus mempersembahkan kepala manusia sebagai mas kawin dan juga bukti
kejantanannya. Bagian tubuh kedua korban yang diambil selain kepala yang
nantinya diasapi adalah jantung, lidah, dan jari-jari. Sementara anggota tubuh
yang tidak diambil dihanyutkan di aliran sungai Ruata, tidak jauh dari
perkampungan suku Naulu dari komunitas Nuane. Sejauh ini tidak ada yang
melanggar tradisi adat tersebut. Sanksi bagi pelanggarnya akan dikucilkan dari
masyarakat adat setempat dan juga dikenakan denda berupa pembayaran piring tua
dan kain berang (merah) bagi kaum perempuan.
·
Upacara
Suku Anaku (Memandikan Anak)
Dikalangan mereka ada suatu tradisi yang
termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu. Yaitu upacara yang berkenaan
dengan masa peralihan dari masa kandungan hingga kelahiran. Upacara tersebut
dinamakan oleh mereka upacara “Suu Anaku” yang berarti “memandikan anak”.
·
Upacara
Masa Dewasa bagi Perempuan (Pinamou)
Istilah
pinamou dalam pengertian
lokal berarti wanita
bisu karena selama berlangsungnya
upacara ini si wanita bertindak seperti orang bisu. Wanita pinamou dibolehkan
berbiacara tapi harus
berbisik tidak boleh
berbicara keraskeras. Adapun
maksud dan tujuan
penyelenggaraan upacara ini
adalah untuk mangalihkan status
seorang perempuan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Suku naulu dan
suku huaulu sebenarnya masih berada dalam satu nenek moyang. Konon, pada jaman
dahulu mereka berasal dari satu ayah ayah dengan ibuyang berbeda. Karena
permasalahan adat, maka keduanya dipisahkan dengan tujuab satu ke utara dan
satunya keselatan. Sejak itu, kedua suku ini berkembang pesat menjadi naulu dan
huaulu. Kekerabatan mereka tidak hanya ada di cerita, namun juga Nampak dari
beberapa tradisi mereka yang memiliki kesamaan, termasuk kain merah yang
disebut kain berang yang wajib dipakai oleh setiap laki-laki dewasa dalam suku.
Salah satu yang paling menonjol diantara kedua suku ini adalah suku naulu. Suku
yang hidup di pulai selatan pulai seram, tepatnya di dua negri atau dusun Sep
dan Luanea. Dusun Sepa memiliki lokasi yang lebih dekat dengan kehidupan
modern, sehingga suku Naulu yang hidup di dusun ini cenderung lebih modern dan
lebih maju dalam pembangunan dusunnya. Untuk diketahui, dusun Sepa memiliki
lima pemukiman yaitu, Bonara, Naulu lama, Hauwalan, yalahatan, dan rouha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar