AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

RESPONDING PAPER SUKU AGAMA LOKAL SUKU NAULU KEL 8

SUKU NAULU

          A.   ASAL USUL SUKU NAULU
               Suku Naulu sering disebut juga orang Naulu atau Nuahunai, artinya orang yang berdiam di hulu Sungai Nua yaitu daerah dari mana mereka berasal sebelum menempati daerah yang sekarang. Suku Naulu terletak di wilayah Kecamatan Amhai, kampung Lama/Yahisiro dan Bonara. Naulu terdiri dari dua kata Nua yang berarti air, Ulu artinya kepala. Jadi Naulu artinya suku yang mendiami kepala air Nua/ Sungai Nua. Penamaan suku Naulu dilatar belakangi oleh tempat tinggal nenek moyang mereka. Sungai Nua bersumber di gunung Manusela dan terbagi menjadi 2 bagian :
1.     Nua Ulu yang bermuara ke Seram Uatar.
2.     Nua Ulu yang bermuara ke Marakiri.
Asal muasal mereka bertempat tinggal di Weri Hulawano (Kepala air Nua) karena terjadi perselisihan antar klan. Akibat perselisihan itu para kepala suku bersepakat untuk pindah ke pantai. Yang menjadi masalah mereka kemudian, pantai mana yang cocok untuk menjadi tempat tinggal mereka yang baru ? mereka juga mencari acuannya di mana matahari naik pada bagian mana matahari masuk. Masing-masing kepala suku berebutan tempat pada kedua bagian tersebut. akibatnya, di antara mereka pun berselisih lagi dan mereka kembali lagi ke Pia dan Weno di Amtrino. Sekian lamanya mereka tinggal di Pia dan  Weno, kemudian mereka melakukan hubungan dengan Raja Sepa. Raja Sepa tidak keberatan hidup berdampingan dengan Suku Naulu asal saja suku Naulu memenuhi persyaratan-persyaratan yang di ajukan raja Sepa. Pesyaratannya yaitu :
1.     Kebiasaan adat suku Naulu yang suka memotong kepala mansia supaya dihilangkan dan diganti dengan kain merah (berang) dan piring tua serta tikar sebagai pembungkus orang meninggal.
2.     Baileu atau rumah adat yang biasanya dipakai untuk rapat-rapat supaya dipindahkandari tepi pantai (tempat lama) ke tempat baru. Dan tiang Leewaka ditanggung oleh suku Naulu.
     B.  KEPERCAYAAN SUKU NAULU 
                  Upu Kuanahatana atau Upu Allah taala suatu zat yang merupakan kepercayaan tertinggi bagi suku Naulu. Apa saja permohonan mereka langsung dimintakan kepada Allah taala. Untuk melaksanakan pembacaan doa tersebut harus ada upacara adat terlebih dahulu, seperti makanan, sirih, pinang, tembakau, kapur dan beberapa jenis daun tertentu yang di letakkan di atas piring tua. Para tetua adat diundang dalam upacara tersebut, tetua adat diundang dalam upacara tersebut, tetua berdiri di tengah pintu sambil membaca kabata atau sejenis dengan itu. NamaUpu kuanahatana sering mereka pergunakan dalam sumpah. Jika mereka bersumpah, mereka menyebut: “eh Upu kuanahatana atau eh Upu Allah taala” sambil telunjuk mereka ke atas. Kalaupun ada kepercayaan kepada arwah nenek moyang hal itu adalah bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka selama hidupnya. Tetapi kepercayaan utama mereka hanya kepada Upu Allah taala.  

     C. RITUAL KEAGAMAAN
                  Suku ini sebenarnya memiliki dua tradisi yang aneh yaitu mengasingkan wanita yang sedang haid dan melahirkan, serta tradisi memenggal kepala manusia sebagai persembahan. Di setiap pemukiman masyarakat suku ini baik yang telah dimukimkan pihak pemerintah maupun yayasan pembinaan masyarakat terasing bahkan yang masih hidup mengembara di pedalaman Pulau Seram, kaum lelakinya membangun gubuk-gubuk kecil yang disebut gubuk posuno. Gubuk –gubuk ini dibangun sebagai tempat berlindung sementara yang aman bagi kaum wanita saat mereka menjalani masa haid maupun melahirkan. Gubuk posuno sebagai tempat mengasingkan diri sementara itu berukuran 2×2 meter berdinding dan beratap daun sagu dilengkapi sebuah tempat tidur yang disebut tapalang berukuran 1×2 meter. Masyarakat Suku Naulu menganggap bahwa dengan mempersembahkan kepala manusia, maka rumah-rumah adat mereka akan terbebas dari musibah.Selain itu, ada juga tradisi jika seorang raja Suku Naulu hendak mengambil seorang menantu laki-laki, calon menantu tersebut harus mempersembahkan kepala manusia sebagai mas kawin dan juga bukti kejantanannya. Bagian tubuh kedua korban yang diambil selain kepala yang nantinya diasapi adalah jantung, lidah, dan jari-jari. Sementara anggota tubuh yang tidak diambil dihanyutkan di aliran sungai Ruata, tidak jauh dari perkampungan suku Naulu dari komunitas Nuane. Sejauh ini tidak ada yang melanggar tradisi adat tersebut. Sanksi bagi pelanggarnya akan dikucilkan dari masyarakat adat setempat dan juga dikenakan denda berupa pembayaran piring tua dan kain berang (merah) bagi kaum perempuan.
·         Upacara Suku Anaku (Memandikan Anak)
     Dikalangan mereka ada suatu tradisi yang termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu. Yaitu upacara yang berkenaan dengan masa peralihan dari masa kandungan hingga kelahiran. Upacara tersebut dinamakan oleh mereka upacara “Suu Anaku” yang berarti “memandikan anak”.
·         Upacara Masa Dewasa bagi Perempuan (Pinamou)
      Istilah  pinamou  dalam  pengertian  lokal  berarti  wanita  bisu  karena selama berlangsungnya upacara ini si wanita bertindak seperti orang bisu. Wanita pinamou  dibolehkan  berbiacara  tapi  harus  berbisik  tidak  boleh  berbicara  keraskeras.  Adapun  maksud  dan  tujuan  penyelenggaraan  upacara  ini  adalah  untuk mangalihkan status seorang perempuan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

     D.   INTERAKSI ORANG NAULU DENGAN AGAMA LAIN
              Suku naulu dan suku huaulu sebenarnya masih berada dalam satu nenek moyang. Konon, pada jaman dahulu mereka berasal dari satu ayah ayah dengan ibuyang berbeda. Karena permasalahan adat, maka keduanya dipisahkan dengan tujuab satu ke utara dan satunya keselatan. Sejak itu, kedua suku ini berkembang pesat menjadi naulu dan huaulu. Kekerabatan mereka tidak hanya ada di cerita, namun juga Nampak dari beberapa tradisi mereka yang memiliki kesamaan, termasuk kain merah yang disebut kain berang yang wajib dipakai oleh setiap laki-laki dewasa dalam suku. Salah satu yang paling menonjol diantara kedua suku ini adalah suku naulu. Suku yang hidup di pulai selatan pulai seram, tepatnya di dua negri atau dusun Sep dan Luanea. Dusun Sepa memiliki lokasi yang lebih dekat dengan kehidupan modern, sehingga suku Naulu yang hidup di dusun ini cenderung lebih modern dan lebih maju dalam pembangunan dusunnya. Untuk diketahui, dusun Sepa memiliki lima pemukiman yaitu, Bonara, Naulu lama, Hauwalan, yalahatan, dan rouha.
               
              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...