AGAMA LOKAL 2017 PA4 A KEL. 8

RESPONDING PAPER AGAMA LOKAL SUKU LOMBOK KEL 8

SUKU LOMBOK
  
      A.Sejarah Kepercayaan Watu-Telu
                   Aliran Waktu-Telu adalah salah satu bentuk faham dalam Islam yang Khas dan hanya terdapat di Lombok. Di beberapa wilayah di Indonesia ada pula yang menjalankan praktek ajaran Islam sebagaimana di lakukan di Lombok itu, tapi tidak pernah disebut sebagai Waktu-Telu. Waktu-Telu didefinisikan secara berbeda-beda, sesuai dengan penafsiran masing-masing kelompok. Diantaranya sebagai berikut:
a)     kelompok Islam Waktu-Telu sendiri member batasan sebagai ‘’ proses kejadian makhluk di alam semesta’’.
b)     seorang pakar dari belanda menyebut Waktu-Telu sebagai bentuk kepercayaan zaman majapahit yang terkena pengaruh ajaran Islam.
c)     menurut kenyataanya, Waktu-Telu adalah sekelompok masyarakat Islam yang belum menyempurnakan syariat atau ajaran agamanya.
Waktu-Telu seringkali di sebut sebagai Wetu-Telu ( wetu yang berarti waktu, dan Gamel-telu berarti pegangan) dan Metu-Telu berarti keluar. Islam yang sepenuhnya bisa diterima baik oleh masyarakat asli. Sejak saat itulah muncul pertentangan-pertentangan antara masyarakat yang belum menyempurnakan ajaran agama Islam dengan papara mubalig Islam.  Tahun 1895, Lombok jatuh ke penguasa Belanda, yang memecah belah karena melihat fanatisme keislaman yang dianut oleh masyarakat Lombok. Dengan pertentangan yang semakin sengit Watu-telu memperkuat fahamnya dengan mengambil pusat pergerakan. Perkembangan berikutnya dari tahun 1945-1955 bisa dikatakan statis. Di tahun 1955 faham Islam dalam Watu-Telu mulai terlibat dalam politik. Tahun 1955-1965, para pengikut faham Islam bisa dikatakan vakum.

B. Pokok-Pokok Kepercayaan dan Upacara Keagamaan
              Cara berfikir penganut islam waktu telu itu masih sangat sederhana, barangkali karena struktur masyarakatnya yang terisolir dan tidak mudah menerima pengaruh dari luar, apabila jika menyangkut adatistiadat dan agama yang mereka terima dari nenek moyangnya. Sifat gotong royong dan sifat social masih melekat kuat pada diri mereka.Ini terlihat pada beberapa praktek kehidupan mereka seperti:
1.     Melakukan perbaikan rumah atau membangun rumah baru, harus dikerjaka nsecara gotong royong.
2.     Aneka bercocok tanam di sawah dan lading dikerjakan secara gotong royong.
3.     Pemberian makanan kepada pengemis atau salah seseorang tetangga yang kelaparan didasarkan bukan karna kelebihan makanan, tetapi membagi makanan yang ada meskipun makanan tersebut belum dapat mencukupi kebutuhan sendiri.
4.     Segala sesuatu yang mereka miliki merupakan titipan tuhan semata yang tidak boleh mereka sayangi dan cintai melebihi sayang dan cinta mereka kepada tuhan.
5.     Semua harta benda yang mereka miliki seakan-akan merupakan milik bersama.
Sifat-sifat dan norma tersebut disebutnya sebagai ajaran agama nenek moyannya yang kemudian diwariskan kepada mereka yang harus ditanamkan pada jiwa  dan kehidupan anak cucunya.

Pada prinsipnya bentuk ritual Wetu Telu dapat disederhanakan ke dalam dua bentuk perwujudan yaitu:
1.     Penghormatan Terhadap Roh
Keyakinan komunitas Islam Wetu Telu adalah percaya kepada makhluk halus yang bersemayam pada benda mati atau benda tertentu atau memiliki kekuatan tetapi tunduk di hadapkan kekuatan Tuhan. Untuk penghormatan terhadap leluhur yang terdahulu mereka memperlakukannya secara berlebihan. Mereka beranggapan bahwa  kuburannya sebagai makam keramat sedangkan dari kelompok-kelompok yang terakhir mereka kuburkan di pemakaman biasa.
2.     Penyelenggaraan Upacara Tertentu
a)     Perayaan Hari besar Islam
Besar Islam dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Islam Wetu Telu. Perayaan-perayaan tersebut dilakukan untuk mengenang kembali dan mengambil nilai-nilai yang positif.
Adapun bentuk-bentuk upacara Islam Wetu Telu seperti :
1)      Roah Wulan dilaksanakan pada bulan Sya’ban
2)      Selamatan Qunut dilaksanakan pada bulan Ramadhan
3)      Maleman Likuran dilaksanakan pada bulan Ramadhan
4)      Malaman Fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan
5)      Lebaran Topat dilaksanakan pada bulan Syawal
6)      Qulhu Sataq dilaksanakan pada bulan Syawal
7)      Selamatan Bubur Putiq dilaksanakan pada bulan Syafar
8)      Selamatan Bubur Abang dilaksanakan pada bulan Syafar
9)      Ngangkat Syare’at Maulud dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal
10)   Teq Berat Isra’ Mikraj dilaksanakan pada bulan Rajab.

      C.  Interaksi Kepercayaan Orang Lombok dengan agama-agama lain

                   Masyarakat terdiri atas orang yang saling berinteraksi dan berbagi budaya bersama. Masyarakat mutlak harus ada bagi tiap individu sebab ia merupakan pusaran tempat nilai-nilai, barang-barang. Atau pun peralatan untuk hidup diperoleh. Juga individu mutlak harus ada bagi tiap masyarakat oleh sebab lewat aktivitas dan kreasi individu lah seluruh nilai material suatu peradapan diperoleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal suku sentani agama lokal PA4A kel 8

Jurnal suku sentani KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DALAM SUKU SENTANI DISTRIK EBUNG...